Lewati ke konten
Media Indonesia • Aktual, Ringkas, Terpercaya
IklanBanner iklan
PUISI

Negeri Sebelum Pagi – Puisi Alvianus Tay

31 pembaca
Bagikan

 

Kukumpulkan matahari
dalam saku celana
membayangkan akan jadi hadiah
saat lomba selesai

Sejak pagi
orang-orang mendandani jalan,
Menutup kesedihan dgn umbul-umbul

Kampungku sedang sibuk
menjahit langit
dengan selembar merah
dan selembar putih.

Aku percaya,
kemerdekaan pasti datang
bersama tiupan peluit pertama.

Di sepanjang jalan,
umbul-umbul mengikat leher angin.
Merah putih berkibar
seperti ribuan burung
yang pulang ke sarangnya.

Orang-orang tersenyum.
Anak-anak berlari.
Dan aku mengira
setiap tawa
adalah bunyi kemerdekaan.

Lalu sore datang
menurunkan satu-satu topeng perayaan

Di ujung kampung,
anak-anak
memunguti huruf
dari buku tak terbeli

sekolah
berdiri jauh

Aku melihat lelaki
pulang membawa senyap,
dan perempuan
menjahit malam
dengan pekerjaan
yang tak pernah mereka pilih
Menjual malamnya
sementara kota
tidur nyenyak
di bawah lampu-lampu besar

Lalu teriakan itu meraung.
“Merdeka! Merdeka!”
Mengguncang bumi.

 

Mengapa
gemanya lebih nyaring
daripada tangis di sudut negeri?

Air mata mengalir lirih.
Wajah menunduk,
memunguti esok
pecah
di kaki mereka.

Ku genggam bendera kecilku erat
Takut angin merebutnya
Lebih takut lagi
seseorang
mengganti warnanya
dengan wajah-wajah
yang pandai berpidato
namun lupa berkaca.

Negeri tercintaku
tak boleh digenggam
tangan angkuh,
diinjak
kaki-kaki kuasa,
pun dipikul
pundak yang panas.

Kupikir
kemerdekaan akan pulang
bersama pemenang lomba.

Ternyata
ia masih berjalan kaki,
dari kampung ke kampung,
menyeberangi sungai-sungai
yang tak pernah selesai dijanjikan jembatan.

esok pagi
aku akan kembali
mengumpulkan matahari
ke dalam saku celana
berharap berkas sinarnya
jatuh di jendela rumah yang sering kehilangan pagi

==============

 

Tentang Penulis Puisi

Alvianus Tay, seorang frater Serikat Sabda Allah (SVD) yang sedang menempuh studi di Tagaytay, Filipina. Selain mendalami pendidikan calon imam, ia aktif menulis puisi, esai, dan opini yang terbit di berbagai surat kabar. Melalui tulisannya, ia berupaya merawat kepekaan terhadap persoalan kemanusiaan, iman, dan realitas sosial, seraya menjadikan kata-kata sebagai ruang dialog antara harapan dan kehidupan.

Bagikan artikel:

Baca Juga

adminpaskalis

Tim redaksi dan penulis Beranda Negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *