Oleh JB Kleden
SEPERTI halnya makan dan minum menjadi kebutuhan primer, WC juga menjadi kebutuhan primer. Sekaya apapun manusia, setinggi apapun jabatannya, WC menjadi tujuan utama tatkala bangun pagi. Seenak apapun makanannya hasil akhirnya bermuara di dalam WC, ada yang mencret, ada yang sekeras batu perlu mengeden; ada yang berwarna kuning ada yang cokelat kehitaman.
Tak ada WC manusia bisa kelabakan, apalagi zaman penggunaan jamban atau kakus seperti dulu saya masih kecil sudah tidak ada. Untuk perkara buang air, ya di halaman juga bisa, di balik pohon apalagi. Cuma baunya ke mana-mana tentu meresahkan orang banyak. Tidak heran kalau keberadaan WC di ruang-ruang publik pun menjadi tuntutan wajib.
Maka ‘beautifikasi WC’ pun dilakukan. Ada taman atau hotel yang merancang WC dengan pemandangan yang mempesona. Tujuannya agar yang sedang buang hajat bisa merasa nyaman. Yang lebih menarik, ada yang menjadikan WC sebagai ajang popularitas. Seorang pemimpin tiba-tiba muncul di laman sosialnya dan dengan bangga menunjuk WC yang barusan selesai direhabilitasi. “Kalau WC bersih kita aman-aman sa,” tulisnya.
Tak mudah memahami jalan pikiran seperti itu. Tapi kata orang tua kita ‘bahasa menunjukkan bangsa’. Dan itu bukan hanya soal nasionalisme tapi juga karakter pribadi atau komunitas. Artinya seseorang atau sebuah komunitas ditimbang martabat dan latarbelakangnya dari cara ia berbahasa.
Maka tidak mengherankan ada pegawainya yang memberikan pujian membanggakan dan menyanjungnya setinggi langit . “Keren. Ini baru pemimpin. Bukan sekadar pemimpin tapi pemimpin yang hebat,” sambil menambahkan emoji sparkles ✨, fire 🔥 dan red heart❤️. Praktik ABS yang tunduk pada kekuasaan hingga sekarang belum berubah dan ironisnya belum disadari banyak kalangan sebagai sebuah masalah. Padahal, hal ini adalah ”virus” mahadasyat yang harus segera dimusnahkan.
Tapi kita juga bangga dengan beberapa pegawai waras yang merasa lucu dengan logika berpikir ini dan berkomentar dengan emoji emoji face with tears of joy 😂. “Horeee, di kantor kita, indikator kinerja bukan lagi KPI (Key Performance Indicator), tapi KWC – Key Water Closet. WC bersih bikin aman, karena di kantor kita semua masalah bisa ‘dibuang’ di kloset tanpa rapat panjang, tanpa perlu notulensi.”
Memang ada WC yang indah, tapi apakah di sana ada surga? Saya memang ingin tahu, tapi belakangan ini saya tak tahu bagaimana untuk tahu.
***
WC adalah singkatan dari Water Closet, istilah bahasa Inggris yang berarti “lemari air” dan merujuk pada ruangan kecil dengan kloset untuk buang air. Di Indonesia, istilah ini lebih populer dibanding “toilet” karena sejak awal masuknya teknologi toilet modern, singkatan WC dianggap praktis dan mudah dipahami lintas generasi.
Water Closet pertama kali digunakan di Inggris pada 1870-an, awalnya disebut wash-down closet sebelum berubah menjadi water closet. Singkatan WC dipakai luas di Eropa dan Asia, termasuk Indonesia, sebagai penunjuk toilet umum. Budaya lokal di Indonesia, WC sering identik dengan jamban atau kakus tradisional, sehingga istilah ini punya nuansa lebih luas daripada sekadar toilet modern.
Seperti halnya handphone tidak diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia akan komunikasi, tapi kebutuhan manusia diciptakan sekian sehingga produksi handphone di pasaran menjadi laku, demikian halnya juga dengan beautifikasi WC. Ia hadir bukan ada untuk memenuhi kebutuhan manusia membuang hajat dengan nyaman, melainkan kebutuhan tersebut dimanipulasi dan dikomodifikasi demi kepentingan pasar kloset
Maka bukan sesuatu yang lucu dan menggelikan kalau ada pimpinan yang membanggakan toilet ketimbang membanggakan kualitas kerja. Rasionalitas memang membawa keuntungan bagi manusia, tapi di sisi lain membuat manusia tidak kritis lagi terhadap mana yang perlu dibanggakan.
***
DI Jakarta, tepatnya di Pasar Rumput, tak jauh dari Taman Ismail Marzuki (TIM) berjejer kloset-kloset putih mengkilap. Tapi ini bukan kloset yang barusan keluar dari pabrik. Ini kloset-kloset bekas. Para penjualnya selalu membersihkan bagian-bagian kloset yang mungkin saja menurut mereka kurang terlihat bersinar agar mengkilap seperti baru.
Cerpenis Indonesia, Fanny J. Poyk, putri sastrawan asal Rote, Gerson Poyk, menulis cerpen yang menarik dengan judul ‘Kloset’ tentang kloset bekas di Pasar Rumput ini (Kompas.id, 25/4/2025). Ia mengisahkan para pedagang kloset ini membersihkannya dengan ketelitian yang prima. Proses pembersihan ini mengirimkan kisah tersendiri sebagaimana tergambar dalam dialog penulis dengan para pedagang.
“Ada kisah yang seru tidak ketika Bapak membeli kloset-kloset ini?” Tanyaku seperti jurnalis sebuah stasiun TV.
“Yang seru paling cuma tingkat kebersihan kloset,” tutur para pedagang sekaligus pemburu kloset bekas. “Jika yang diperoleh sudah mengilat dan tidak bau, itu artinya si pemilik rajin membersihkan klosetnya. Apabila kloset berwarna coklat tua dan penuh kerak tinja, itu artinya si empunya sosok yang jorok dan tidak memiliki tingkat kebersihan yang prima. Dari kloset terlihat karakter pemiliknya. Meski si pemilik terlihat rapi, keren dan cantik atau klimis, jika klosetnya terlihat kotor dan berbau, itu pertanda perilaku dan karaktenya sama seperti bentuk klosetnya. Tapi banyak juga kloset yang sudah dimanipulatif dengan beragam benda atau cairan pembersih. Itu pertanda pemiliknya ahli strategi di dalam memanipulasi sebuah benda. Biasanya, kloset dari hotel-hotel yang terlihat bersih dan kinclong karena ada pegawai hotel yang telah bekerja keras untuk membersihkannya. Pekerjaan membersihkan kloset dan seluruh isi toilet, sama seperti membersihkan korupsi yang tak terlihat, para koruptor membuang kotorannya tanpa rasa bersalah, sementara ada orang lain yang membersihkan dan menutupi kotoran itu, mencium aroma tak sedapnya. Hanya Tuhan yang tahu apa yang mereka lakukan, suatu saat balasan akan menimpa mereka, misalnya seperti kloset yang kepenuhan dan harus dikuras, lalu disedot semua isinya dan dibuang ke laut.”
Sebuah cerita dengan narasi penuh sindiran halus. Kloset adalah wajah kita semua. Apa yang baik dan apa yang terlantar di sana mencerminkan apa yang baik dan apa yang terlantar di antara kita.
***
KITA hidup dalam kamuflase seperti terungkap dalam iklan-iklan yang lebih mementingkan pencitraan ketimbang menyajikan realita yang sebenarnya. Pengungkapan kebenaran dalam ruang publik, kini menjadi kelangkaan yang terorganisir. Keputusan-keputusan publik pun diambil di ruang-ruang rahasia tanpa melibatkan publik.
Maka bukan tidak mungkin, WC tempat tertutup manusia melakukan hajatan biologis membuang hajat, berubah menjadi metafora ruang rahasia pengambilan keputusan. “Ah, sembarang saja…” Aku mengutuki imajinasi liarku, dan kembali ke topik tentang beautifikasi tempat yang menjadi sarana pembuangan kotoran manusia ini.
Kata beautifikasi itu sendiri tidak terjumpa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) VI Daring. Kemungkinan besar, kata ini diadopsi dari kata beautification. Dalam Bahasa Indonesia, akhiran “-tion” memang bisa diserap menjadi “-si”. Seperti yang sering kita temukan, gratification menjadi gratifikasi, communication menjadi komunikasi, inspiration menjadi inspirasi.
Dalam Cambridge Dictionary kata beautification diartikan sebagai ’the process of improving the appearance of someone or something’. Sementara Merriam-Webster, kata beautification merujuk pada beautifying yang mengandung arti ‘Serving or intended to make someone or something mor attractive or beatuful’.
Dengan demikian bila kita mengacu pada Cambridge Dictionary dan Merriam-Webster yang menitikberatkan pada proses, seharusnya beautification bisa diartikan sebagai mempercantik, memperindah/pengindahan, atau memperelok/pengelokan. Maka beautifikasi WC dapat diartikan sebagai mempercantik, memperindah/pengindahan, memperelok/pengelokan WC.
Jika dari kloset terlihat karakter pemiliknya maka beautifikasi WC menjadi simbol pengingat betapa tidak sempurnanya wajah kita. Kita sering menutupi cacat dengan kosmetik, padahal yang retak bukan kulit, melainkan hati. Pulchritudo animi praeferenda est corpori —Keindahan jiwa lebih utama daripada tubuh.
Fitur beautifikasi toilet mengingatkan kita bahwa estetika sejati bukanlah kosmetika luar, melainkan integritas batin yang memberi nilai pada kehidupan. Yang abadi adalah keindahan dan kebenaran, bukan pengindahan, bukan juga pembenaran. “A thing of beauty is a joy forever;” John Keats menulis dalam Endymion. “loveliness increases; it will never pass into nothingness…” Terlalu sentimental memang, tapi bisakah kita menampiknya?
Thomas Aquinas dalam gagasan tentang transendentalia menyebutkan: Verum, Bonum, Pulchrum unum sunt — kebenaran, kebaikan, dan keindahan adalah satu kesatuan. Ketiganya menuntun manusia menuju harmoni: harmoni dengan diri, sesama, lingkungan, dan Tuhan, Sang Pencipta.
Hanya sang penyensur agung yang menampik semua itu dan gemar melakukan beautifikasi WC. Lalu kita pun ragu, adakah ia tahu bahwa dia juga manusia?
*) JB Kleden, Dosen Prodi Kepemimpinan, IAKN Kupang





