“Di matanya yang cinta, luka tak pernah membutakan apa-apa”
Pagi di Bajawa masih dingin ketika Maria sudah berada di dapur. Kabut turun dari arah bukit. Di halaman, rumput masih basah. Kayu di tungku gemeretak, apinya kecil tetapi cukup untuk merebus air.
Maria mengangkat tutup panci.
“Sudah bangun?” tanyanya ke arah kamar.
Belum ada jawaban.
Ia mengambil dua jerigen kosong dan keluar rumah.
Perigi tidak jauh dari sana. Jalan masih sepi. Beberapa perempuan kampung sudah lebih dahulu datang. Ada yang membawa jerigen, ada yang membawa ember. Mereka saling menyapa sambil menunggu giliran.
“Maria, hari ini ke kebun?” tanya Yuliana.
“Iya.”
“Pulang siang?”
“Kalau selesai.”
Yuliana tertawa.
“Pekerjaanmu itu kapan selesainya?”
Maria ikut tertawa.
“Entahlah.”
Ia mengangkat jerigen yang sudah penuh dan berjalan pulang. Di rumah, anak-anak mulai bangun.
“Kakak, bangun. Air sudah ada.”
Dapur kembali ramai.
Maria menyiapkan sarapan, membungkus bekal, lalu menyuruh anak-anak bersiap sekolah. Setelah semuanya selesai, ia mengikat kain di pinggang dan berangkat ke kebun. Begitulah pagi-pagi Maria.Tidak banyak yang istimewa. Hanya pekerjaan yang harus dilakukan.
Maria sejak kecil sudah mengenal pekerjaan. Ibunya meninggal ketika ia masih kecil. Setelah ayahnya menikah lagi, Maria tinggal bersama saudara. Ia membantu mengurus rumah dan anak-anak. Sekolahnya berhenti ketika remaja. Ia bekerja keras dan tumbuh menjadi perempuan yang terbiasa mengurus dirinya sendiri. Tidak ada yang mengajarinya tentang menjadi kuat. Hidup saja yang mengajarinya.
Ketika dewasa, Maria bertemu dengan Marteen dari Aimere. Marteen sering datang ke rumah. Kadang mereka berbicara di halaman, kadang duduk di bale-bale bersama keluarga.
“Maria,” kata Marteen suatu sore.
“Hmm?”
“Kalau saya datang lagi besok, kau marah?”
Maria tertawa.
“Kenapa saya harus marah?”
“Tidak tahu.”
“Kalau mau datang, datang saja.”
Beberapa waktu kemudian mereka menikah.Rumah mereka mulai dipenuhi suara anak-anak.
Satu lahir. Kemudian yang lain. Lima anak akhirnya tumbuh di rumah itu.
Maria semakin sibuk. Pagi ke kebun. Siang mengurus ladang. Kalau air habis, ia mengambil jerigen dan pergi ke perigi. Kalau ada kopi yang sudah merah, ia petik . Kalau wati belum selesai dianyam, ia duduk di bale-bale dan mengerjakannya sambil menjaga anak-anak.
Marteen bekerja, Maria bekerja. Rumah itu sederhana, tetapi cukup ramai untuk membuat hari-hari terasa penuh.
Awalnya rumah masih tenang, lalu Marteen sering pulang lebih malam. Ia mulai sering minum moke. Anak-anak mengenali perubahan itu sebelum mereka memahami penyebabnya. Bau moke biasanya datang lebih dulu. Dari halaman. Lalu suara Langkah. Pintu terbuka.
“Maria!”
“Ya, Bapak.”
“Ada makanan?”
“Ada. Sebentar.”
Marteen duduk di bale-bale.
Anak-anak yang sedang bermain mulai diam.
Maria tetap di dapur.
“Bapak tunggu sebentar. Saya sedang angkat.”
“Dari tadi tunggu.”
Suara Marteen mulai meninggi.
Anak yang paling besar menarik adiknya menjauh. Tidak ada yang menyuruh mereka. Mereka sudah tahu. Kalau bapak pulang dengan bau moke, jangan banyak bicara. Kalau suara bapak mulai tinggi, lebih baik duduk dekat Mama. Kalau pintu dibanting, jangan keluar kamar. Mereka belum mengerti bahwa hubungan bapak dan mama sedang retak. Mereka hanya tahu rumah menjadi berbeda. Malam-malam tertentu lebih panjang dari biasanya.
Maria berusaha menjaga rumah tetap berjalan. Ia memasak, mencuci, bekerja di kebun dan tetap mengurus anak-anak Ketika Marteen marah, Maria tidak membalas dengan suara yang sama.
“Sudah, Bapak.”
“Jangan begitu di depan anak-anak.”
Kadang Marteen berhenti. Kadang tidak. Maria membawa anak-anak masuk kamar.
“Tidur.”
“Tapi Mama…”
“Tidur saja.”
Anak-anak berbaring berdekatan. Maria duduk di samping mereka sampai semuanya tenang.
Ada malam ketika ia sendiri tidak tidur. Ia duduk dekat jendela dan melihat halaman yang gelap.
Tidak ada yang bisa ia ceritakan kepada anak-anak.
Mereka masih kecil. Mereka hanya perlu tahu bahwa pagi akan datang dan mereka tetap harus bangun.
Suatu malam, keributan itu menjadi lebih besar. Marteen pulang dalam keadaan mabuk. Suaranya terdengar sampai ke rumah tetangga. Saudara Maria datang.
“Marteen, sudah.”
“Ini urusan rumah tangga saya!”
“Kalau urusan rumah tangga, jangan bikin anak-anak takut.”
Suara mereka semakin keras.
Maria membawa anak-anak masuk. Yang paling kecil menangis.
“Jangan takut.”
“Mama…”
“Sudah. Mama di sini.”
Setelah malam itu mereda, Maria duduk di dekat anak-anak.
Ia tidak menangis. Setidaknya tidak di depan mereka. Ia mengusap kepala anak bungsunya sampai tertidur. Di rumah yang sudah sunyi, Maria mengambil rosario. Ia berdoa pelan. Tidak ada doa yang panjang. Hanya nama anak-anaknya. Satu per satu.
Beberapa waktu kemudian, kabar tentang perempuan lain sampai kepada Maria.
Seorang janda. Tidak jauh dari rumah mereka. Maria tidak bertanya kepada banyak orang.
Ia sudah melihat sendiri perubahan Marteen. Pulang semakin jarang. Pulang dengan bau moke.
Mudah marah. Dan sekarang ada nama perempuan lain di antara mereka.
Suatu sore, Lusia datang. Mereka duduk di bale-bale.
“Maria.”
“Hmm?”
“Sudah dengar?”
Maria mengangguk. “Sudah.”
Lusia tidak bertanya lagi. Maria menuangkan kopi untuk mereka.
“Minum dulu.” Lusia memegang cangkirnya.
“Terus kau bagaimana?”
Maria melihat ke halaman. Anak-anak sedang bermain.
“Saya pikirkan anak-anak.”
Itu saja.
Ketika akhirnya Marteen pergi, Maria tidak punya banyak waktu untuk meratapi perpisahan. Besok pagi anak-anak tetap harus makan. Uang sekolah yang harus dibayar. Beras yang harus dibeli. Dan ada kebun yang menunggu.
Maria mengambil keranjang. Ia pergi ke kebun. Hari itu matahari terasa panas. Tangannya memetik kopi sampai penuh. Seorang perempuan yang bekerja tidak jauh darinya bertanya,
“Maria, kau baik-baik saja?”
Maria terus memetik.
“Baik.”
“Yakin?”
Maria tersenyum.
“Kalau tidak baik, kopi ini tetap harus dipetik.”
Perempuan itu tertawa kecil. Maria ikut tertawa. Lalu mereka kembali bekerja.
Sejak saat itu, Maria mengurus lima anak seorang diri. Tidak ada pembagian kerja lagi. Kalau anak sakit, ia yang berjaga. Kalau beras habis, ia yang mencari. Kalau uang sekolah kurang, ia yang memikirkan. Kalau air di rumah habis, ia mengambil jerigen dan berjalan ke perigi. Kalau kebun perlu dibersihkan, ia pergi. Kalau kopi sudah matang, ia petik. Kalau wati belum selesai, ia duduk menganyam sampai malam.
Tangannya semakin kasar. Punggungnya sering sakit. Tetapi setiap pagi ia bangun lagi. Anak-anak tumbuh melihat semua itu. Mereka tidak perlu diberi tahu siapa Maria. Mereka melihat sendiri. Rumah Maria kemudian menjadi tempat orang-orang datang. Sore-sore, perempuan kampung sering duduk di bale-bale. Ada yang membawa masalah ,membawa kabar. Ada yang hanya ingin minum kopi.
“Maria, saya mau cerita.”
“Cerita saja.”
Maria mendengarkan.
Kadang ia tertawa. Kadang ia hanya mengangguk.Ia tidak selalu punya jawaban. Tetapi ia tahu bagaimana menemani orang yang sedang susah. Hidup sudah mengajarinya bahwa tidak semua kesedihan membutuhkan nasihat. Kadang cukup ada seseorang yang duduk di sebelah kita. Maria juga tidak ingin anak-anak perempuannya tumbuh dengan pikiran bahwa seorang perempuan harus menerima semua hal demi mempertahankan rumah tangga.
Suatu sore, salah seorang anak perempuannya membantu di dapur.
“Mama.”
“Ya?”
“Kalau perempuan sudah menikah, harus selalu ikut suami?”
Maria berhenti mengiris sayur.
“Kenapa tanya begitu?”
“Tidak tahu.”
Maria melanjutkan pekerjaannya.
“Perempuan harus tahu menjaga dirinya.”
“Kalau orang sayang sama kita, dia tidak akan membuat kita takut setiap hari.”
Itu saja. Tidak ada pelajaran panjang. Ataupun nasihat yang tertulis di buku namun kalimat itu tinggal lama di kepala anaknya.
Maria tidak pernah menyebut dirinya perempuan kuat. Ia bahkan mungkin tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang luar biasa. Baginya, ia hanya seorang ibu. Kalau anak lapar, ia masak. Kalau anak sakit, ia rawat. Kalau uang tidak cukup, ia bekerja. Kalau rumah perlu diperbaiki, ia mencari jalan. Kalau ada yang datang meminta bantuan, ia membantu semampunya. Hidup dijalani begitu saja. Hari demi hari. Malam adalah waktu ketika Maria paling sering sendiri. Setelah anak-anak tidur, ia membereskan dapur. Api tungku dipadamkan. Rumah mulai gelap. Di salah satu sudut ada gambar Bunda Maria.
Maria duduk di depannya dengan rosario di tangan. Banyak perkara tak ia ceritakan ke anak-anaknya. Tentang ibunya, masa kecil dan tentang Marteen. Semua itu tinggal di dalam dirinya.
Tahun-tahun berlalu. Anak-anak mulai besar. Rumah yang dahulu penuh suara bayi mulai lebih sering sunyi. Satu pergi. Kemudian yang lain. Maria tetap di rumah. Kebun kopi masih ada. Ladang masih menunggu. Perigi masih didatangi perempuan-perempuan kampung. Bale-bale masih menjadi tempat orang duduk pada sore hari.
Dan kalau ada anak yang pulang, Maria selalu bertanya,
“Sudah makan?”
Bukan,
“Dari mana?”
Bukan juga “Kenapa lama?”
Pertama-tama selalu:
“Sudah makan?”
Begitulah Maria.
***
Hari ini ulang tahun Maria. Pagi ini mungkin tidak jauh berbeda dari pagi-pagi sebelumnya.
Kabut masih turun di tanah tinggi Bajawa. Kayu masih gemeretak di tungku. Kopi masih mengepul dari cangkir. Jerigen mungkin masih menunggu di dekat pintu. Kebun masih membutuhkan tangan yang sama.
Tetapi hari ini Maria boleh duduk sedikit lebih lama. Tidak perlu buru-buru. Tidak perlu memikirkan semua orang. Biarkan pekerjaan menunggu. Sebab ada satu hal yang mungkin jarang dilakukan Maria sepanjang hidupnya: memikirkan dirinya sendiri. Ia sudah terlalu lama menjadi orang yang bangun lebih dulu, pulang paling akhir, dan memastikan semua orang baik-baik saja.
Hari ini, biarlah orang lain yang bertanya kepadanya:
“Maria, kau bagaimana?”
Dan untuk sekali ini, semoga Maria tidak menjawab dengan senyum kecil lalu mengalihkan pembicaraan. Semoga ia mengatakan yang sebenarnya.
Kalau lelah, katakan lelah.
Kalau bahagia, tertawalah.
Kalau ingin menangis, menangislah.
Sebab menjadi seorang ibu tidak berarti harus selalu kuat di depan semua orang.
Maria sudah melakukan cukup banyak. Ia telah membesarkan lima anak dengan tangannya sendiri. Ia telah melewati rumah tangga yang retak. Ia telah bekerja ketika tidak ada pilihan lain. Ia telah menjaga anak-anak ketika dirinya sendiri membutuhkan seseorang untuk menjaganya.
Dan sepanjang semua itu, ia tetap menjadi Maria. Tetap membuat kopi. Tetap membuka pintu. Tetap pergi ke kebun. Tetap berdoa. Tetap mencintai.
Di Bajawa, pagi akan segera terang. Kabut perlahan naik dari bukit.
Maria mungkin sudah berdiri lagi dari bale-bale. Mungkin ia akan mengambil jerigen.
Mungkin ia akan pergi ke kebun. Mungkin seseorang akan memanggil dari jalan.
“Maria!”
Dan seperti biasa, ia akan menjawab,
“Ya?”
Lalu hidup berjalan lagi.
Seperti biasa.
Hanya hari ini, ada satu hal yang berbeda.
Hari ini ulang tahun Maria.
——————-
Alvianus Tay, seorang frater Serikat Sabda Allah (SVD) yang sedang menempuh studi di Tagaytay, Filipina. Selain mendalami pendidikan calon imam, ia aktif menulis puisi, cerpen, esai, dan opini yang terbit di berbagai surat kabar. Melalui tulisannya, ia berupaya merawat kepekaan terhadap persoalan kemanusiaan, iman, dan realitas sosial, seraya menjadikan kata-kata sebagai ruang dialog antara harapan dan kehidupan.





