Oleh Gede Prama
Entah dari mana datangnya kekuatan, setelah belajar jauh ke negeri orang bertahun-tahun, membaca ribuan buku, majalah, koran, mengumpulkan pengetahuan lewat internet, dicerahkan oleh pergaulan yang demikian luas, diperkaya oleh film yang sempat saya tonton, namun bolak-balik saya didamparkan pada puncak ide yang bernama cinta. Mirip dengan guru Aikido yang bernama Morihei Ueshiba, yang menyebut hanya ada satu puncak yaitu cinta, perjalanan ide saya juga demikian. Dari bacaan, pergaulan, maupun tontotan, semuanya berujung pada lorong yang bernama cinta.
Demikian juga ketika saya bersama anak-anak menonton film The Theory of Conspiracy di HBO suatu malam pertengahan Maret 2001. Film inspiratif yang dibintangi Mel Gibson dan Julia Roberts ini memang dilatarbelakangi oleh dunia intelejen yang penuh teka-teki, menantang dan kadang kejam. Mel Gibson dan Julia Roberts memang bermain mengagumkan. Namun, yang lebih mengagumkan adalah cerita film ini. Untuk tujuan kekuasaan yang penuh kekejaman, kerakusan dan keserakahan, memori Mel Gibson diacak-acak dan dihancurkan. Kemudian, diformat ulang agar ia menjadi seorang pembunuh berdarah dingin yang diharapkan bisa membunuh seorang hakim yang membongkar kasus lama.
Akan tetapi, begitu Mel Gibson siap membunuh sang hakim, ia melihat cinta seorang hakim terhadap putrinya (Julia Roberts) yang menawan. Entah cinta sang hakim pada putrinya, atau cinta seorang pria kepada seorang wanita, yang jelas seluruh energi cinta ini menghentikan energi membunuh Mel Gibson yang penuh dengan format penguasa.
Merasa takut dan tidak puas dengan hasil format terhadap Gibson, ia pun dikejar dan disiksa. Bahkan sampai mengerahkan seluruh komponen aparat keamanan. Sekali lagi, ia selamat, berkat sayap yang bernama cinta. Di akhir cerita, secara amat romantis Mel Gibson bertutur apik: love gives us wing.
Kalimat apik terakhir ini mengingatkan saya pada pengalaman berat. Dalam presentasi di depan petinggi-petinggi Citibank Indonesia — dari country manager sampai semua vice president — saya bertemu dengan banyak sekali orang pintar dengan jam terbang yang mengagumkan. Demikian ketika diajak keliling Indonesia oleh Tupperware. Saya bertemu dengan banyak manusia yang amat beragam. Hal yang sama terjadi, ketika melakoni diri menjadi konsultan yang berhadapan dengan pengusaha-pengusaha sukses yang kaya raya. Ada yang sombong, merendahkan, menghina saya, dan ada yang kagum penuh pujian.
Akan tetapi, dengan modal sayap yang bernama cinta, itu lewat tanpa halangan yang menakutkan. Seorang lokakarya yang amat sarkastis di awal, di akhir malah saya sambil memberikan hadiah sepasang sepatu malah saya ragu dan bingung, tanpa usaha yang berarti, bagaimana orang yang demikian bermusuhan awalnya demikian bersahabat. Dalam politik perkantoran, kepala saya pernah diinjak dan dikencingin orang lain, ada yang melakukannya di depan umum. Entah bagaimana datangnya kekuatan, orang-orang seperti ini belakangan sedikit yang menaruh hormat yang tinggi.
Dan setelah mendengar pesan Mel Gibson bahwa love gives us wing, saya baru saja sadar. Bahwa cinta bisa membuat sayap. Untuk kemudian, terbang tinggi-tinggi dalam prestasi. Tidak hanya tinggi dalam prestasi materi, tetapi juga dalam prestasi spiritual. Lebih dari itu, sebagaimana burung yang bersayap, tubuh dan jiwa ini juga menikmati kebebasan yang demikian mengagumkan. Imajinasi, inovasi, inspirasi datang demikian mudahnya dalam kehidupan yang bersayapkan cinta.
Coba perhatikan lirik lagu Boyzone yang berjudul Every Day I Love You, It’s a touch when I feel bad, It’s a smile when I get mad. Cinta memang bisa demikian memabukkan kalau tidak dibingkai dengan kedewasaan dan kearifan. Namun begitu ia berada dalam bingkai kedewasaan dan kearifan, ia berfungsi persis seperti sayap besar dan tangguh. Dan siap membawa kita ke mana saja kita pergi dalam kehidupan.
Bercermin dari filmnya Mel Gibson, pengalaman pribadi saya, maupun lagunya Boyzone, akan banyak gunanya kalau kita membanjiri diri kita dengan cinta. Inilah sebenarnya yang tidak sulit. Energi cinta tersedia demikian melimpah di mana-mana. Istri, suami, anak, orang tua, tetangga, alam semesta, dan Tuhan adalah sumber dan sekaligus tempat penyaluran cinta. Kita bisa melakukannya kapan saja dan di mana saja baik dengan biaya mahal maupun murah.
Saya menyisakan sebagian kecil makanan di pinggir piring setiap kali makan, meletakkan segenggam nasi di pinggir taman rumah agar dimakan oleh burung-burung gereja yang datang setiap pagi, meletakkan daun talas di kolam ikan agar ikan makan dengan lahap, membagi sebagian kecil rezeki ke orang-orang bawah yang memerlukan, memberi semampu mungkin ke anak, istri dan orang tua. Anda saya yakin punya cara yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan saya. Mencintai juga lebih hebat dibandingkan dengan saya. Namun, jangan pernah lupa, cinta membuat kita bersayap. Kemudian membuat tubuh dan jiwa ini ringan, enteng dan ringan seperti Mel Gibson yang mengalahkan format teknologi yang demikian mengagumkan namun kejam.
Sumber Tulisan dari Buku Hidup Sejahtera Selamanya






