Lewati ke konten
Media Indonesia • Aktual, Ringkas, Terpercaya
IklanBanner iklan
OPINI

Anak Krakatau Meletus: Teguran Semesta terhadap Kita

19 pembaca
Bagikan

Oleh Agus Widjajanto, Pemerhati Sosial Budaya

 

Meletusnya Anak Krakatau dan Pesan yang Perlu Kita Renungkan

Meletusnya Anak Krakatau beberapa hari terakhir kembali mengingatkan kita pada satu hal mendasar: manusia bukan penguasa tunggal di bumi ini. Kita hanya tamu. Dan ketika seorang tamu terlalu berisik, terlalu serakah, terlalu mengeksploitasi alam, serta terlalu lupa diri, maka tuan rumah akan berdehem.

Letusan itu bukan sekadar peristiwa geologi. Ia adalah sebuah teks yang dapat kita baca dari berbagai sudut pandang. Untuk membacanya secara utuh, setidaknya kita membutuhkan dua kacamata: kacamata sejarah dan kacamata spiritual.

Tentu, secara ilmiah, letusan gunung api merupakan proses alam yang memiliki penjelasan geologis. Namun, sebagai bangsa yang memiliki kekayaan sejarah, budaya, dan spiritualitas Nusantara, kita juga memiliki tradisi panjang dalam memaknai hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

 

  1. Dimensi Sejarah: Krakatau sebagai Penanda Zaman

Sejarah telah mencatat Krakatau sebagai gunung yang seolah “suka bicara” pada momen-momen penting perjalanan zaman. Letusan Krakatau tahun 1883 mengguncang dunia, memicu tsunami dahsyat, memengaruhi kondisi iklim, dan menjadi simbol kekuatan alam yang tidak dapat dijinakkan oleh kekuasaan manusia maupun kolonialisme.

emudian pada 2018, erupsi dan longsoran tubuh Anak Krakatau memicu tsunami Selat Sunda yang menelan ratusan korban jiwa. Peristiwa tersebut kembali memperlihatkan bahwa manusia, dengan seluruh kemajuan teknologi yang dimilikinya, tetap memiliki keterbatasan di hadapan kekuatan alam.

Dalam perspektif ke-Indonesiaan, letusan gunung berapi seperti Anak Krakatau maupun pendahulunya, Krakatau purba, juga selalu dikaitkan dengan konsep kosmologi dan pergantian zaman.

Dan secara bersamaan, pada Minggu pagi, 6 September 2026, terjadi aktivitas erupsi bukan hanya Anak Krakatau, tetapi juga Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, Gunung Ibu di Halmahera Barat, serta Gunung Ili Lewotolok di Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Fenomena tersebut kemudian mengingatkan kembali pada tafsir budaya terhadap ramalan Raden Ngabehi Ronggowarsito, yang menyadur tradisi Musarar dan Jangka Jayabaya, mengenai datangnya zaman baru, era baru, dan paradigma baru—baik dalam kehidupan sosial politik, spiritualisme, maupun tatanan dunia.

Dalam khazanah ramalan tersebut, perubahan zaman digambarkan dapat didahului oleh berbagai gejolak: bencana alam, gunung meletus, gempa bumi, tsunami, hingga goro-goro atau huru-hara.

Dalam tulisan-tulisan yang dikaitkan dengan Ronggowarsito dan tradisi Jangka Jayabaya, pergantian dari zaman Kolobendu—yang sering dimaknai sebagai zaman penuh kekacauan atau zaman edan—menuju Kolosubo, yang dimaknai sebagai zaman ketenteraman, digambarkan sebagai sebuah proses yang tidak selalu berlangsung dengan tenang.

Di dalam pandangan kosmologi Jawa, perubahan besar sering kali didahului oleh kekacauan. Alam seolah menjadi bagian dari narasi perubahan tersebut.

Termasuk keberadaan Anak Krakatau dan sejarah terpisahnya Pulau Jawa dan Sumatera di kawasan Sunda, secara simbolis sering dikaitkan dengan kejadian besar, perubahan zaman, serta goro-goro yang mendahului lahirnya tatanan baru.

Sekali lagi, semua itu adalah tafsir budaya dan spiritual, bukan penjelasan ilmiah mengenai penyebab erupsi. Namun justru di situlah pentingnya kita melihat peristiwa alam tidak semata-mata sebagai angka dan data, tetapi juga sebagai momentum untuk melakukan refleksi.

 

Krakatau dan Pergantian Peradaban

Sejumlah teori mengenai letusan besar Krakatau purba juga menarik perhatian para sejarawan dan paleoklimatolog.

David Keys, misalnya, pernah mengemukakan teori mengenai kemungkinan letusan besar pada sekitar tahun 535 Masehi yang berkaitan dengan perubahan iklim global dan periode kegelapan yang terjadi di berbagai wilayah dunia.

Teori tersebut masih menjadi bagian dari perdebatan ilmiah dan tidak dapat begitu saja dianggap sebagai fakta tunggal mengenai runtuhnya peradaban. Namun, gagasan itu memperlihatkan satu hal penting: peristiwa alam yang sangat besar dapat memberikan dampak terhadap perjalanan sejarah manusia.

Dalam narasi sejarah Nusantara, periode perubahan iklim dan gejolak lingkungan kemudian sering dihubungkan dengan perubahan pusat-pusat kekuasaan dan lahirnya kerajaan-kerajaan baru.

Berabad-abad kemudian, Nusantara memasuki era kejayaan kebudayaan dan spiritualitas yang antara lain tercermin melalui lahirnya karya monumental seperti Candi Borobudur dan kompleks Candi Prambanan.

Artinya, dari perspektif sejarah, bencana tidak selalu menjadi akhir. Abu dan kehancuran terkadang justru menjadi bagian dari proses lahirnya sesuatu yang baru.

Letusan Anak Krakatau pada tahun 1883 juga menjadi salah satu peristiwa alam terbesar pada zamannya. Ia terjadi ketika Hindia Belanda sedang menghadapi berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan politik pasca-Perang Jawa serta berbagai pemberontakan masyarakat.

Beberapa dekade kemudian, Indonesia memasuki momentum sejarah yang jauh lebih besar: Proklamasi Kemerdekaan 1945, ketika bangsa Indonesia memanfaatkan momentum kekosongan kekuasaan untuk menyatakan kemerdekaannya.

Karena itu, Krakatau dalam ingatan kolektif masyarakat bukan sekadar gunung.

Bagi masyarakat pesisir Banten dan Lampung, Krakatau adalah bagian dari ruang hidup, sejarah, dan kebudayaan. Dalam babad dan cerita lisan, gunung yang “batuk” kerap dimaknai sebagai pertanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres di daratan: gagal panen, wabah, kekacauan sosial, atau perubahan kekuasaan.

Hari ini, pada 2026, ketika Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitasnya, bangsa Indonesia juga sedang berada di tengah krisis multidimensi.

Ekonomi masyarakat bawah menghadapi tekanan. Kepercayaan terhadap lembaga-lembaga publik mengalami tantangan. Korupsi masih menjadi persoalan yang terus menghiasi pemberitaan. Ketimpangan dan ketidakadilan masih dirasakan sebagian masyarakat.

Secara historis, kita dapat melihat berbagai letusan Krakatau sebagai bagian dari masa-masa perubahan besar. Apakah itu hanya kebetulan? Tentu tidak ada dasar ilmiah untuk menghubungkan langsung erupsi dengan perubahan politik.

Namun sebagai manusia, kita berhak mengambil hikmah dan melakukan introspeksi.

 

  1. Dimensi Spiritual: Marahnya Semesta dan Penguasa Astral Pertiwi

Dalam khazanah Nusantara, alam tidak pernah dipandang sebagai sesuatu yang sepenuhnya mati.

Gunung, laut, hutan, dan bumi memiliki kedudukan penting dalam kosmologi masyarakat tradisional. Ada keyakinan tentang keseimbangan antara dunia manusia, alam, dan kekuatan spiritual yang oleh sebagian masyarakat disebut sebagai “penguasa astral di bumi Pertiwi”.

Orang-orang tua dahulu mengenal konsep tata titi utomo: sebuah tatanan kehidupan yang harus dijaga. Ketika tatanan rusak, maka alam dianggap memberikan reaksi.

Bukan berarti alam itu “jahat”. Bukan pula berarti setiap bencana merupakan hukuman langsung atas dosa manusia. Secara ilmiah, gunung meletus memiliki mekanisme geologi yang jelas.

Tetapi dalam perspektif spiritual dan budaya, bencana dapat menjadi cermin bagi manusia untuk melihat kembali perilakunya sendiri.

Lalu, apa yang sedang rusak dalam kehidupan kita? Jawabannya pahit: korupsi, keserakahan, ketidakadilan, dan hilangnya kepekaan sosial.

Korupsi bukan hanya soal uang negara yang hilang. Korupsi adalah angkara. Ia adalah pengambilan hak orang banyak demi kepentingan segelintir orang.

Ia hadir ketika seseorang tidak bekerja tetapi menerima hak yang seharusnya diperoleh melalui kerja.

Ia hadir dalam proyek yang di-mark-up, tetapi hasilnya bermutu asal jadi.

Ia hadir dalam budaya asal bapak senang yang membuat orang memilih diam daripada menyampaikan kebenaran.

Ia hadir ketika kepentingan kelompok ditempatkan di atas kepentingan rakyat.

Dan yang lebih berbahaya, korupsi dapat berubah menjadi budaya yang dianggap biasa.

Ketika angkara merajalela dan manusia kehilangan kemampuan untuk mengoreksi dirinya sendiri, alam seolah mengingatkan bahwa manusia tidak hidup sendirian.

etusan, banjir, gempa, tsunami, dan berbagai bencana alam menjadi bahasa yang membuat kita berhenti sejenak. Bukan semata-mata untuk menghukum. Tetapi untuk membangunkan kesadaran. Anak Krakatau yang menyemburkan abu ke langit dapat kita jadikan simbol. Abu menutupi pandangan dan menghalangi cahaya matahari. Secara simbolis, ia mengingatkan bahwa terang kebenaran dapat tertutup oleh asap kepentingan.

Debu vulkanik yang jatuh ke darat dan laut juga dapat menjadi metafora tentang bagaimana perilaku manusia yang buruk dapat mengotori kehidupan bersama.

 

  1. Introspeksi Bersama: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Jika kita hanya membaca letusan ini sebagai berita tentang cuaca dan aktivitas gunung api, maka kita mungkin akan segera melupakannya.

Kita menunggu informasi dari BNPB, menunggu bantuan, mengikuti perkembangan berita, kemudian setelah keadaan kembali normal, kita kembali pada kehidupan semula.

Beberapa bulan kemudian, korupsi muncul lagi. Ketidakadilan muncul lagi. Premanisme muncul lagi. Penyalahgunaan kekuasaan muncul lagi.

Dan kita kembali mengeluh. Karena itu, seharusnya letusan ini menjadi momentum introspeksi nasional bagi bangsa Indonesia.

Pertama, introspeksi para pemimpin. Kekuasaan adalah titipan.

Ia bukan milik pribadi. Ia bukan alat untuk memperkaya diri, keluarga, kelompok, atau jaringan kekuasaan. Jika kekuasaan digunakan untuk kepentingan sempit, maka sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa sebuah kerajaan, pemerintahan, bahkan sebuah peradaban dapat runtuh bukan semata-mata karena diserang musuh dari luar, tetapi karena busuk dari dalam.

Pemimpin harus kembali memahami bahwa jabatan adalah amanah. Semakin tinggi kekuasaan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moralnya kepada rakyat dan kepada sejarah.

Kedua, introspeksi rakyat. Kita juga tidak boleh hanya menunjuk kepada pemerintah. Kita ikut memiliki tanggung jawab.

Ketika kita diam melihat korupsi dan ketidakadilan di depan mata, ketika premanisme merajalela dalam kehidupan masyarakat seolah negara menutup mata, ketika kita memilih karena amplop, ketika kita bangga memamerkan harta yang diperoleh secara tidak benar, maka sesungguhnya kita sedang ikut memberi makan kepada angkara.

Demokrasi tidak akan sehat apabila masyarakat hanya menuntut pemimpin yang bersih, tetapi dalam kehidupan sehari-hari masih membenarkan perilaku yang tidak bersih. Perubahan bangsa tidak hanya dimulai dari istana. Perubahan dimulai dari diri sendiri.

 

Ketiga, kembali kepada keseimbangan.

Orang Nusantara memiliki kearifan yang sangat dalam: memayu hayuning bawana. Memayu hayuning bawana berarti berusaha memperindah, menjaga, dan menciptakan keselamatan dunia.

Hubungan manusia dengan manusia harus adil. Hubungan manusia dengan alam harus penuh penghormatan. Dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta harus bersih.

Inilah keseimbangan yang mulai hilang dalam kehidupan modern. Kita terlalu sibuk mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi lupa menjaga alam.

Kita terlalu sibuk mengejar jabatan, tetapi lupa menjaga amanah. Kita terlalu sibuk mengejar kekayaan, tetapi lupa bahwa hidup memiliki batas.

Anak Krakatau tidak membutuhkan kita. Kitalah yang membutuhkan Anak Krakatau tetap tenang. Kita membutuhkan hutan tetap ada. Kita membutuhkan laut tetap sehat. Kita membutuhkan gunung tetap menjadi bagian dari ekosistem. Kita membutuhkan bumi tetap mampu menopang kehidupan anak cucu kita.Karena itu, letusan ini dapat kita baca sebagai sebuah surat dari semesta. Isinya sederhana:

“Cukup. Benahi dirimu.” Apabila kita mengabaikannya, bukan berarti semesta pasti akan memberikan bencana yang lebih besar. Tetapi kita sendiri yang akan terus menumpuk persoalan apabila tidak mau belajar dari setiap peristiwa.

Sebaliknya, apabila kita mampu mengambil hikmah, maka dari abu vulkanik ini dapat tumbuh tanah baru yang subur bagi generasi berikutnya. Sudah saatnya kita berhenti selalu menyalahkan cuaca ekstrem, keadaan, atau sekadar menyebut “oknum”.

Sudah saatnya kita bertanya kepada diri sendiri? Apa yang sudah saya perbuat untuk Pertiwi ini? Pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar mencari siapa yang harus disalahkan.Sebab bangsa yang besar bukan bangsa yang tidak pernah mengalami bencana, melainkan bangsa yang mampu mengambil pelajaran dari setiap bencana dan mengubahnya menjadi kebijaksanaan. Dan pada akhirnya, ketika penguasa dunia dan “penguasa astral” sama-sama kita pahami sebagai bagian dari sebuah keseimbangan kehidupan, maka jalan keselamatan bukanlah kesombongan manusia, melainkan kerendahan hati.

Kita perlu kembali menjadi manusia yang bijak. Manusia yang mampu mendengar. Manusia yang mau menerima kritik dan masukan.

Manusia yang berani melakukan introspeksi. Manusia yang tidak hanya berpikir tentang dirinya sendiri, tetapi juga tentang generasi yang akan datang.

Dalam kearifan Nusantara, kita mengenal ungkapan Den Koyo Segoro—hendaknya manusia memiliki hati dan pola pikir seluas samudra: luas dalam menerima perbedaan, lapang dalam menghadapi kritik, dan dalam dalam melakukan perenungan.

Mungkin Anak Krakatau sedang mengingatkan kita: jangan terlalu tinggi merasa berkuasa, karena bumi tempat kita berpijak bukan milik kita seorang.

Kita hanya menumpang. Dan sebagai seorang tamu, tugas kita sederhana: “datang dengan baik, hidup dengan bijak, menjaga rumah yang kita tempati, dan meninggalkannya dalam keadaan lebih baik bagi generasi sesudah kita.”

 

Bagikan artikel:

Baca Juga

adminpaskalis

Tim redaksi dan penulis Beranda Negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *