Lewati ke konten
Media Indonesia • Aktual, Ringkas, Terpercaya
IklanBanner iklan
OPINI

Perintis Sepak Bola Perempuan di Inggris

12 pembaca
Bagikan

 

Oleh Yohanes Maria Prayoga Pangestu, Mahasiswa S1 Sejarah Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta; Sejarawan Mentah

 

-Jauh sebelum Tiongkok merilis Film Kung Fu Soccer, Perempuan di Inggris awal abad 20 sudah lebih dahulu pamer bakat bermain sepak bola hingga menciptakan rekor.-

Kung Fu Soccer belakangan menjadi perbincangan hangat para pencinta sinema di Indonesia. Perbincangan itu tak terlepas dari kembalinya aktor komedi asal Hongkong, Stephen Chow ke dunia layar lebar. Dirilis setelah 25 tahun kesuksesan besar Shaolin Soccer (2001), Stephen Chow selaku sutradara kali ini mempersembahkan kisah tim sepak bola perempuan.

Berbeda dengan Shaolin Soccer berfokus pada tim sepak bola pria, Kung Fu Soccer mengangkat dinamika sebuah tim sepak bola perempuan dari Gunung Emei dalam kejuaraan sepak bola perempuan Asia. Film ini semakin menuai sorotan publik karena menggandeng salah satu aktris beken Tiongkok, Dilraba Dilmurat.

 

Dilraba “Reba” Dilmurat dalam Kung Fu Soccer – Foto dari South China Morning Post

 

Aktris muslim akrab disapa Reba ini memainkan peran sebagai ujung tombak tim sepak bola Emei bernama Yu Long. Dalam memerankan karakter seorang pesepakbola yang ideal, Reba tampil totalitas sejak awal persiapan. “Selama proses persiapan, Dilraba menaikkan massa otot untuk membentuk gestur atletis, memangkas kadar lemak tubuh hingga 14 persen, serta mampu mengangkat beban squat hingga 80 kilogram,” tulis CNN Indonesia dalam ulasan website bertajuk Dilraba Dilmurat Tampil Tanpa Stunt Double di Kung Fu Soccer.

Terlepas dari baik buruknya penyajian Kung Fu Soccer, Stephen Chow telah mengambil peran dalam mempromosikan sepak bola perempuan melalui film fiktif. Meski hingga kini sepak bola perempuan masih kalah pangsa pasar dengan olahraga perempuan lain seperti basket dan tenis. Nyatanya mereka memiliki basis penggemarnya di benua Amerika dan beberapa negara Eropa.

Di platform media sosial, magis permainan pesepakbola perempuan Aitana Bonmati kerap disandingkan dengan mega bintang Argentina Lionel Messi. Baru ini juga baik tim nasional perempuan maupun laki-laki spanyol sama-sama berstatus pemegang gelar Piala Dunia FIFA.

Skuad perempuan tim Matador terlebih dahulu menyabet gelar juara dunia pada tahun 2023, sedangkan tim pria menyusul tiga tahun kemudian usai mengalahkan La Pulga Messi cs dengan skor tipis 1-0 pada bulan Juli silam. (20/7)

Bahkan John Herdmann, pelatih kepala timnas pria Indonesia saat ini turut memiliki rekam jejak kepelatihan menarik dalam dunia sepak bola perempuan. Tercatat ia membesut timnas perempuan Selandia Baru (2006-2011) dan Kanada (2011-2018). Timbul satu pertanyaan mengganjal dalam benak saya, kapan dan bagaimana sepak bola perempuan bermula?

 

Sepak Bola Perempuan Sempat Menjadi Ancaman Serius

Menurut Gabriel Kuhn lewat buku sepak bola dan Politik Radikal; keterlibatan perempuan dalam sepak bola pertama kali terjadi di tanah kelahiran sepak bola modern Inggris sekitar tahun 1890-an. Awalnya pertandingan sepak bola perempuan Inggris sekitar tahun tersebut dikenal masyakarat luas sebagai satu kegiatan amal.

“Sepanjang Perang Dunia I, ketika sebagian besar pemain laki-laki berada di medan perang, pertandingan sepak bola perempuan dijadwalkan secara teratur, seringkali diwarakan sebagai pertandingan amal untuk pengumpulan dana perang,” terang Gabriel Kuhn dalam bukunya.

Maraknya pertandingan sepak bola perempuan sejatinya tak bisa dilepaskan dari klub sepak bola laki-laki yang bermunculan di Inggris pada akhir abad ke-19. Hal ini menjadi pemantik bagi kaum perempuan yang tidak mau kalah membentuk klub sepak bolanya sendiri. Tim perempuan Inggris paling populer waktu itu adalah Dick Kerr’s Ladies yang didirikan di kota Preston pada tahun 1917 oleh duo pemilik pabrik asal Skotlandia, W.B. Dick dan John Kerr.

Pertandingan sepak bola klub perempuan satu ini sempat membuat asosiasi sepak bola nasional Inggris (FA) ketar ketir. Ini terjadi pada Desember 1920 ketika Boxing Day, satu hari setelah natal. Klub Dick Kerr’s mencukur habis rival bebuyutannya, St. Helen’s Ladies di Goodison Park dengan skor 4-0. Bukan masalah skor akhir menjadi sorotan FA, melainkan total kehadiran penonton langsung di pertandingan ini yang sukses mengumpulkan sebanyak 53.000 orang.

Sebuah angka fantastis jika dibandingkan dengan rata-rata jumlah penonton pertandingan seluruh tim sepak bola laki-laki saat itu. Sekaligus menjadi rekor jumlah penonton terbanyak dalam pertandingan sepak bola perempuan di Inggris. Sebelum akhirnya dipecahkan pada tahun 2022 di stadion Wembley. Sebuah stadion nasional di London yang mempertemukan timnas Inggris dan Jerman pada final Piala Eropa UEFA dengan kehadiran mencapai 87.192 penonton.

 

Tim sepak bola Dick Kerr’s Ladies (kiri, jersey garis hitam putih) menjamu tim asal Perancis yang berakhir dengan skor imbang 1-1. Kemungkinan foto diambil pada November 1920 – Evening Public Ledger, 24 November 1920.

 

 Alih-alih memberi dukungan, FA merasa sepak bola perempuan berpotensi membahayakan eksistensi sepak bola laki-laki. Mereka mulai mengambil tindakan keras. Berpuncak pada 1921 ketika FA mengeluarkan kebijakan kontroversial dengan melarang pertandingan sepak bola perempuan di seluruh stadion terdaftar sebagai anggota FA. Tidak sampai situ, FA menyuarakan semacam propaganda agar perempuan inggris menjauhi semua unsur berbau sepak bola.

“Sepak bola tidak begitu cocok untuk perempuan dan dengan demikian jangan dianjurkan,” ujar FA seperti dikutip Kuhn. Pelarangan tersebut rupanya tidak hanya berlaku untuk kesebelasan pemain, juga berefek domino pada perempuan yang memiliki hobi menyaksikan pertandingan sepak bola dari bangku penonton. “Bila pada awal abad ke-20 dilaporkan cukup banyak perempuan yang menonton pertandingan sepak bola, maka pada 1930-an penonton perempuan nyaris tak tersisa,” tegas Kuhn.

Pelarangan FA terhadap sepak bola perempuan turut diberlakukan secara serempak oleh sejumlah asosiasi sepak bola negara lain. ini jelas berdampak sangat fatal pada perkembangan sepak bola perempuan secara global. Fakta ini kian ironis dengan terbatasnya laporan media massa mengenai aktivitas sepak bola perempuan sepanjang periode tahun 1920 hingga 1970.

Larangan FA terhadap sepak bola perempuan sepenuhnya dicabut pada tahun 1971. Secara perlahan beberapa negara yang ikut melarang mulai membuka pintu untuk melonggarkan larangan bermain sepak bola untuk kaum perempuan. Meski ada satu negara di Amerika Selatan yang bersikeras memperpanjang durasi larangan tersebut. “Satu-satunya negara yang mempertahankan larangan itu lebih lama adalah Paraguay, dimana perempuan dilarang bermain sepak bola hingga 1979,” kata Kuhn.

 

Kesimpulan

Akhir kata Gabriel Kuhn melalui bukunya Sepakbola dan Politik Radikal telah berani mengkritisi arus penulisan sejarah sepak bola global yang hanya berfokus unsur maskulinitas. Narasinya mengenai sepak bola perempuan menunjukkan kesan bahwa ia menaruh harapan terhadap kemajuan kaum hawa di bidang olahraga. “Sebuah revolusi sepakbola sejati hanya bisa menjadi revolusinya perempuan,” tutup mantan pesepakbola semi-proffesional kelahiran Austria itu.

———————-

 

Referensi Buku

Gabriel Kuhn. 2026. Sepakbola dan Politik Radikal, Terjemahan Mahfud Ikhwan. Tangerang Selatan: Marjin Kiri.

Bagikan artikel:

Baca Juga

adminpaskalis

Tim redaksi dan penulis Beranda Negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *