Oleh Radhar Panca Dahana
dua-tiga ratus kursi mengeluh
pagi terlalu kantuk
kertas-kertas terlampau mabuk
dua-tiga puluh kursi mengutuk
laporan-setoran tak pernah utuh
istri-gundik lama tak disentuh
ugh ….
mimbar kosong
suara bergema begitu purba
meja jati transaksi
seratus keputusan kita jual-beli
kau menang kamu rugi
aku senang deposito meninggi
di dalam,
dua-tiga kursi melayang
bermuka tirus berhati terbang
di luar,
dua-tiga ratus juta mata
rabun cahaya
mata dan keringat tak lagi rakyat
airnya kering menggurun
diperas gaji, tunjangan, kantor, sofa
blackberry, notebook, sekspri, wisata
keluarga, ongkos kenakalan dan biaya
kaus kampanye.
di mana pembuluh itu?
di mana darah dan mimpi mengarus
di mana janji jadi demokrasi
pantat siapa terwakilkan?
aurat mana rajin ditonjolkan?
rapatrapat cuma barisan kurakura
ruangruang pepat cuma purapura
sejarah bagimu mati
waktu untukku terperdaya
di kamar begini besar
dua-tiga juta kata menjelma kasar
dua-tiga miliar perak berserak
terpulung dengan genit
bertarung tanpa sengit
dan dua-per-tiga anggota
tertinggal nama
tersisa angka dan sia-sia
maka,
wahai wakil terhormat
datanglah berkhidmat
pesta kita mulai tiada selesai
pesta modern penuh nikmat
bermenu jeritan rakyat
dan hukum segala ayat
demi teori manis, pemodal
kelimis, komprador bengis, dan
kamar besar yang menangis
: kubahmu ….parlemen setia
negaramu semata, dunia nanti yang buta
cintaku, tak perlu kata.
————————
Sumber dari Buku Puisi Manusia Istana, Penerbit Bentang 2015






