Lewati ke konten
Media Indonesia • Aktual, Ringkas, Terpercaya
IklanBanner iklan
OPINI

Waktu Zarathustra

29 pembaca
Bagikan

 

Oleh    St.  Sunardi

 

Suatu malam di bulan Juli 1989, saya susah tidur ketika membayangkan perjalanan yang akan saya tempuh pagi harinya. Pagi yang kutunggu-tunggu itu akhirnya tiba juga. Ditemani dua orang sahabat, saya diantar melewati gunung dan danau menuju suatu daerah yang selama ini hanya ada dalam khayalan. Di tengah-tengah canda ria tiba-tiba—tak tahu apa penyebabnya—mobil kami ditabrak oleh mobil lain dari samping. Meskipun mobilnya tidak rusak parah, kami tidak meneruskan perjalanan kami menuju tujuan semula. Tujuan itu tidak lain adalah Sils Maria (di Swiss), salah satu daerah yang digemari Nietzsche untuk menghabiskan waktunya untuk menulis Zarathustra. Untuk “menghibur” saya, sahabat itu mengajakku pergi ke sebuah kafe di tengah pegunungan indah dan di sana saya dibelikannya sebuah post card bergambar Sils Maria!

Sekalipun sebagai sebuah teks Zarathustra merupakan sebuah karya yang mandiri, tidak perlu dibela oleh pengarangnya, pengalaman melihat panorama Swiss dan Italia banyak membantu untuk mencerna nuansa-nuansa metaforis yang banyak diambil dari alam pegunungan berdanau. Hal serupa juga penting untuk memahami filsuf lain seperti Karl Jaspers. Filsuf Jerman yang hidup di pesisir ini banyak menggunakan bahasa bahari untuk menjelaskan ide-idenya. Dengan kata lain, bahasa Zarathustra adalah Bahasa “orang gunung”. Demikianlah Zoroaster dari orang Persia menjadi Zarathustra orang gunung. Tidaklah mengherankan kalau di tengah-tengah bahasanya yang menggelegar, Zarathustra memendam romantisme gunung. Langit seisinya (bulan, bintang, dan matahari), hutan seisinya (binatang buas dan burung) menjadi binatang bahasa. Lebih dari itu, mereka menjadi sahabat-sahabat setia Nietzsche. Mereka menjadi mutakallim—teman bicara.

 

1. Nabi Kesepian

Zarathustra ditulis dalam rentang waktu antara tahun 1883 dan 1885, dalam rentang daerah Rapello, Genoa, Sils Maria, Nizza. Zarathustra ditulis ketika Nietzsche menjelang umur empat puluh tahun. Sebelum menulis Zarathustra, stradia sudah mengalami beberapa fase hidup penting dengan karya-karya penting pula. Dia sudah menghasilkan karya seperti The Birth of Tragedy (1872), The Dawn (1881), dan, yang terakhir, The Gay Science (1882). Bahwa dia “tiba-tiba” menulis sebuah karya yang utuh (bukan aforisme) dan dalam bentuk sastra, hal ini menunjukkan pentingnya kedudukan Zarathustra dalam sejarah pemikiran dan rohaninya.

Zarathustra adalah sebuah karya sastra, susastra, belle art. Oleh karena itu untuk memasuki dunia imajinasi dalam Zarathustra, kita harus juga siap menafsirkan sebagaimana menafsirkan karya sastra. Tidak mengherankan bahwa setiap penerjemah akan menghadapi kesulitan (juga kenikmatan) seperti halnya ketika menerjemahkan karya-karya sastra lainnya. Karena sifatnya ini, Zarathustra menempati posisi unik di antara karya-karya Nietzsche lainnya. Zarathustra dibagi menjadi empat buku yang masing-masing terdiri dari pelbagai kisah (ibarat cerpen atau prosa liris). Sebagai sebuah kisah, Zarathustra memiliki alur yang dapat membantu pembaca untuk menghubungkan gagasan-gagasan yang ada.

Akan tetapi, biasanya kita akan cepat lupa untuk menelusuri alur ini, karena kita sudah “mabuk” ketika membaca satu atau dua kisah. Sebagai sebuah karya sastra, yang terpenting adalah tone, retorika atau poesia yang keluar dari karya tersebut. Inilah yang harus dicari atau ditunggu oleh setiap pembaca ketika memegang Zarathustra. Inilah yang membuat setiap penerjemah harus mengambil sebuah keputusan yang amat sulit: menerjemahkan secara harfiah atau maknawiyah. Dari segi ini, Zarathustra mirip dengan novel Najib Mahfūz berjudul Rihla Ibn Fatūma, kisah perjalanan rohani seorang murid menuju Dar al-Jabal untuk mencari kebenaran, al-haqq.

Setting kisah ini kebanyakan terjadi di gunung, di sekitar gua “pertapaan” Zarathustra. Buku pertama diawali dengan kisah Zarathustra yang meninggalkan “dunia” dan menyepi ke gunung untuk mencari ilmu kasunyatan. Kasunyatan yang dia temukan terungkap dalam idiom seperti “Tuhan sudah mati”. Dia mengotbakhkannya di kota-kota. Buku Kedua juga diawali dengan kisah pengundurannya kembali ke gunung. Dalam Buku Ketiga, Zarathustra menegaskan dirinya sebagai seorang “pendaki gunung”. Demikian juga dalam Buku Keempat, Nietzsche melukiskan seorang Zarathustra yang duduk di atas batu di depan guanya dikelilingi oleh para sahabatnya, yaitu binatang-binatang. Kini rambutnya sudah memutih. Dilihat dari setting kisah Zarathustra dan pengalamannya mendapatkan “musik”, Zarathustra memang sebuah khotbah di dan dari bukit. Ajaran Zarathustra didapatkan di gunung. Kalau Karl Jaspers menimba inspirasinya dari laut ganas, Nietzsche dari kesunyian gunung dengan kedalamannya yang tanpa batas.

Secara umum saya menangkap bahwa buku Zarathustra ibarat sebuah kredo tanpa agama, manifesto tanpa massa dan sosok Zarathustra ibarat seorang nabi kesepian tanpa pengikut yang mengelu-elukan.

 

2. Waktu Zarathustra

Salah satu tema yang memikat dalam Zarathustra adalah waktu. Menjadi manusia berarti bertarung melawan waktu. Kegagalan orang bermain-main dengan waktu membuat orang tidak hidup di masa kini. Dalam sejarah filsafat, tema tentang waktu dalam Zarathustra merupakan sumbangan berharga Nietzsche untuk mengatasi metafisika. Tema tentang waktu dijumpai paling banyak pada Buku Keempat di mana Zarathustra tampil sebagai “nabi kembalinya segala sesuatu”. Akan tetapi, tema ini sebenarnya sudah terasa pada bab-bab sebelumnya seperti yang akan kita lihat berikut ini.

“Negeri Budaya” (Of Land of Culture), demikianlah judul sebuah kisah dalam Buku Kedua, adalah kisah tentang Zarathustra yang hanya ditemani oleh waktu. Pengalaman ini datang ketika Zarathustra meninggalkan masa kini untuk berkelana ke masa depan. Zarathustra ternyata tidak tahan tinggal hanya bersama dengan waktu. A horror assailed me! Saya terperangkap dalam rasa takut yang sangat! Demikianlah Zarathustra menggambarkan penderitaannya berhadapan dengan waktu. Tidak tahan berada di masa depan, Zarathustra lari pulang ke land of culture untuk menjumpai orang-orang yang merasa diri sebagai “orang-orang masa kini” (men of the present). Berjumpa dengan orang-orang masa kini menjadi satu-satunya obat kepedihan Zarathustra yang diluluh-lantakkan oleh masa depan. Harapan Zarathustra untuk mendapatkan hiburan ternyata tidak terpenuhi. Dengan hati yang masih gundah dan kaki gemetar dia tidak tahan untuk tidak tertawa menyaksikan men of the present! Perutnya mual karena terlalu banyak tertawa. Dia mengalami hal yang tidak jauh berbeda dengan pengalamannya berada di masa depan, yaitu a horror assailed me. Akan tetapi, kini—di negeri budaya—perutnya mual bukan karena berada bersama dengan sang waktu, melainkan karena Zarathustra merasa sedang menghadapi tengkorak-tengkorak hidup, orang-orang yang mengaku diri produktif namun sebenarnya adalah mandul. Andaikan saja kejantanannya diuji, kata Zarathustra, orang-orang ini pasti terbukti mandul. kering, stern. Gemerlapan yang memantul dari tubuh mereka tidak berhasil menutup-nutupi kemandulannya. Aksesori yang dikenakan pada tubuh mereka dan tudung yang dipakai di kepala mereka tidak berhasil mengelabui orang bahwa mereka sebenarnya hanyalah tengkorak, kerangka, manusia kurus kering, kerdil. Kehadiran mereka bahkan membuat takut burung-burung yang terbang lari menjauh dari orang-orang mandul ini. Tubuhnya tidak lagi memiliki daging dan darah melainkan hanya tulang-tulang rusuk yang meringis.

Land of Culture adalah kisah tentang waktu. Kisah tentang dimensi waktu akan datang yang harus ada dalam waktu sekarang. Tanpa dimensi waktu akan datang, waktu kini tidak pernah ada. Oleh karena itu, mereka yang tidak dapat menghadirkan dimensi waktu yang akan datang tidak pernah hidup dalam dunia nyata. Sebaliknya dunia mereka lebih buruk daripada dunia orang mati. Lebih daripada itu, mereka bahkan menakutkan orang-orang mati!

Siapakah yang Nietzsche maksud dengan men of the present? Apa yang dia maksud dengan land of culture? Mereka ini ternyata orang-orang yang hidup dalam dunia tidak nyata meskipun mereka mengaku diri sebagai orang-orang realis. Mereka mengaku diri orang yang paling bisa hadir sekarang dan paling nyata. Akan tetapi, kata Zarathustra, mereka ternyata kalah nyata dibandingkan dengan burung-burung dan dunia orang mati.

Dalam Land of Culture ada dua golongan tokoh yang bertentangan (antithetic): aku (Zarathustra) dan kamu (orang-orang masa kini). Sang aku adalah orang yang datang dari masa depan dan memeriksa masa kini. Nietzsche tidak banyak bicara tentang kualifikasi sang aku, tidak banyak bicara tentang apa yang dilihat di masa depan. Hanya saja, sekembalinya dari masa depan, sang aku melihat masa kini secara berbeda, melihat orang-orang zaman ini secara lain. Masa depan telah memberinya kekuatan untuk membuka kedok orang-orang masa kini, orang-orang yang mengaku hidup dalam land of culture.

Nietzsche melukiskan bahwa orang-orang masa kini adalah orang-orang yang tidak memiliki kemampuan untuk percaya, mereka bahkan tidak percaya akan kepercayaan. Tanpa kepercayaan niscaya seseorang mampu menghasilkan buah. Akan tetapi, jangan salah paham akan apa yang Zarathustra maksudkan dengan kepercayaan. Kepercayaan mengasumsikan kemampuan untuk menciptakan mimpi kenabian. Artinya, kemampuan untuk mengimajinasikan sesuatu dalam perspektif masa depan. Sebagai imajinasi, “sesuatu” tidak sama dengan hal yang diambil begitu saja dari masa lampau. Kepercayaan akan images hasil imajinasi masa lampau bukanlah kepercayaan. Kalau mau disebut kepercayaan, ini adalah jenis kepercayaan minus mimpi kenabian.

Di akhir kisah, sang aku mengatakan: Aku bersedia membayar tumbal untuk anak-anakku agar menjadi anak ayahku—membayar tumbal untuk seluruh masa depan demi masa kini. Bagi Zarathustra, untuk hadir di masa kini orang harus berani menanggung risiko, orang harus bersedia membayar kerugian, berani berkorban. Risiko, kerugian dan korban ini tak terhindarkan ketika orang melihat maa depan. Dalam masa depan orang tidak melihat apa-apa kecuali waktu. Berada bersama waktu – sendirian – itulah korban yang besar. Inilah sebuah kisah Zarathustra yang mencibirkan budaya yang kehilangan dimensi waktu.

————-

Sumber Tulisan dari Buku Vodka dan Birahi Seorang Nabi,  Jalasutra, 2012

 

Bagikan artikel:

Baca Juga

adminpaskalis

Tim redaksi dan penulis Beranda Negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *