Lewati ke konten
Media Indonesia • Aktual, Ringkas, Terpercaya
IklanBanner iklan
OPINI

Sosok Raja Jayabaya dari Sisi Sejarah: Antara Fakta, Legenda dan Budaya Jawa

14 pembaca
Bagikan

Oleh Agus Widjajanto, Pemerhati Sosial Budaya

 

Nama Prabu Jayabaya telah melekat kuat dalam memori kolektif masyarakat Jawa. Diceritakan secara turun-temurun hingga saat ini, ia dikenal sebagai raja Kediri yang sakti, bijaksana, dekat dengan rakyat, sekaligus sosok yang dipercaya sebagai pencetus Jangka Jayabaya, sebuah ramalan yang berbicara mengenai siklus zaman, perubahan sosial, datangnya penjajahan, hingga munculnya Ratu Adil.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, nama Jayabaya bahkan berkembang jauh melampaui sosok seorang raja. Ia menjadi simbol tentang pemimpin ideal, keadilan, harapan dan perubahan zaman.

Namun, apabila dilihat dari perspektif sejarah akademik, sosok Jayabaya merupakan contoh menarik mengenai bagaimana tokoh sejarah dapat bercampur dengan legenda, mitologi, tradisi lisan serta kepentingan politik pada masa-masa berikutnya.

Karena itu, Jayabaya perlu dilihat dari dua sisi: Jayabaya sebagai tokoh sejarah dan Jayabaya sebagai konstruksi budaya masyarakat Jawa.

 

JEJAK SEJARAH: JAYABAYA DALAM SUMBER PRIMER

Secara sejarah, Jayabaya memang benar-benar ada. Ia merupakan salah satu raja penting Kerajaan Kediri yang hidup pada abad ke-12. Keberadaannya antara lain dapat ditelusuri melalui sejumlah prasasti.

Pertama, Prasasti Hantang tahun 1135 Masehi, salah satu sumber penting yang menyebut nama Jayabaya dan berkaitan dengan penetapan status perdikan.

Kedua, Prasasti Talan tahun 1136 Masehi dan Prasasti Jepun tahun 1144 Masehi, yang memperkuat kedudukan Jayabaya sebagai penguasa Kediri. Gelar Warmeswara juga menunjukkan kuatnya latar keagamaan Hindu-Siwa pada masa tersebut.

Ketiga, Kakawin Bharatayuddha, karya sastra yang disusun oleh Empu Sedah dan kemudian diselesaikan Empu Panuluh pada 1157 Masehi. Karya tersebut lahir dalam lingkungan kekuasaan Jayabaya dan menjadi salah satu mahakarya sastra Jawa Kuna.

Dari sumber-sumber tersebut, Jayabaya dapat ditempatkan sebagai tokoh sejarah nyata. Masa pemerintahannya sering ditempatkan sekitar 1135–1157 Masehi, dan periode tersebut dipandang sebagai salah satu masa penting dalam perkembangan Kerajaan Kediri, terutama dalam stabilitas kerajaan dan perkembangan sastra. Dengan demikian, Jayabaya historis adalah seorang raja, bukan pertama-tama seorang peramal.

 

DARI RAJA MENJADI MITOS

Yang membuat Jayabaya unik adalah proses mitologisasi yang berlangsung ratusan tahun setelah ia wafat. Pada masa-masa berikutnya, terutama dalam perkembangan tradisi sastra Jawa, nama Jayabaya kembali dihidupkan melalui berbagai naskah Jangka Jayabaya dan Serat Jayabaya. Di dalam berbagai versi tersebut, muncul kisah mengenai penjajahan, perubahan sosial, teknologi, zaman edan, hingga kedatangan Ratu Adil.

Di sinilah terjadi perbedaan antara Jayabaya yang terdapat dalam sumber sejarah dengan Jayabaya yang terdapat dalam tradisi ramalan. Dalam perkembangan budaya Jawa, nama seorang raja besar masa lalu dapat menjadi sumber legitimasi dan simbol kekuasaan. Ketika masyarakat menghadapi krisis politik, perubahan kekuasaan dan penjajahan, figur raja masa lalu dapat digunakan sebagai rujukan untuk menjelaskan masa kini sekaligus membayangkan masa depan.

Dalam konteks tersebut, setidaknya terdapat tiga wajah Jayabaya.

Pertama, Jayabaya secara historis.

Ia adalah raja Kediri abad ke-12 yang pemerintahannya dapat ditelusuri melalui prasasti dan karya sastra.

Kedua, Jayabaya secara kultural.

Ia menjadi simbol raja ideal Jawa: adil, bijaksana, dekat dengan rakyat dan mampu menciptakan ketenteraman.

Ketiga, Jayabaya secara mistik.

Ia berkembang menjadi tokoh supranatural yang dikaitkan dengan Jangka Jayabaya, Ratu Adil, Satrio Piningit dan berbagai ramalan tentang masa depan.

Ketiga wajah tersebut hidup dalam ruang yang berbeda, tetapi kemudian saling berkelindan dalam kebudayaan Jawa.

 

RAMALAN JAYABAYA DALAM BUDAYA JAWA ERA MATARAM ISLAM

Dalam khazanah budaya Jawa, nama Prabu Jayabaya tidak berhenti sebagai nama seorang raja Kediri. Ia “dihidupkan kembali” berabad-abad kemudian melalui tradisi jangka dan berbagai naskah yang berkembang pada masa sesudahnya.

Perkembangan tradisi tersebut semakin penting dalam lingkungan Mataram Islam dan periode setelahnya. Hal ini bukan sesuatu yang sepenuhnya kebetulan. Jawa pada masa tersebut mengalami perubahan besar: perubahan pusat kekuasaan, berkembangnya Islam, konflik antarkerajaan dan kemudian semakin kuatnya pengaruh kolonial.

Dalam situasi seperti itu, Jangka Jayabaya dapat berfungsi sebagai alat politik, spiritual sekaligus psikologi kolektif masyarakat.

Ada sedikitnya tiga krisis yang membuat tradisi semacam itu memperoleh ruang.

Pertama, krisis legitimasi.

Nama Jayabaya dapat digunakan untuk menghubungkan kekuasaan baru dengan kejayaan kerajaan masa lampau. Dalam budaya politik Jawa, kesinambungan dengan raja besar sebelumnya mempunyai arti penting dalam membangun legitimasi.

Kedua, krisis kolonial.

Ketika VOC dan kemudian kekuasaan kolonial semakin kuat, masyarakat Jawa menghadapi tekanan sosial, ekonomi dan politik. Muncul kebutuhan akan narasi tentang kapan penderitaan akan berakhir dan kapan kekuasaan asing akan pergi.

Karena itu berkembang berbagai gambaran tentang datangnya bangsa asing, perubahan teknologi, zaman edan dan pada akhirnya hadirnya Ratu Adil.

Ketiga, krisis spiritual dan kebudayaan.

Masuknya Islam ke dalam masyarakat Jawa tidak serta-merta menghilangkan seluruh warisan Hindu-Buddha dan kepercayaan lokal. Terjadi proses akulturasi yang panjang.

Dalam proses tersebut, sosok Jayabaya tetap dipertahankan, tetapi maknanya mengalami penafsiran baru dan kemudian berkelindan dengan konsep-konsep Islam Jawa, kejawen dan gagasan tentang Ratu Adil.

Maka, dapat dikatakan bahwa “Jayabaya meramal” dalam tradisi kemudian juga dapat dimaknai sebagai “orang Jawa membaca dan meramalkan masa depan melalui nama Jayabaya”.

 

JANGKA SEBAGAI ALAT LEGITIMASI, PERLAWANAN DAN HARAPAN

Naskah-naskah yang beredar bukanlah satu buku tunggal. Berbagai versi Jangka Jayabaya, Serat Jayabaya, Sabda Palon dan Jangka Sasangka menunjukkan bahwa tradisi ramalan tersebut berkembang melalui proses panjang.

Bahasanya banyak menggunakan simbol, tembang dan ungkapan yang memungkinkan penafsiran berulang. Gambaran mengenai kereta yang berjalan tanpa kuda, kapal tanpa layar, atau teknologi yang dianggap aneh pada zamannya, kemudian ditafsirkan oleh generasi berikutnya sesuai perkembangan teknologi yang mereka saksikan.

Begitu pula dengan zaman edan. Ia tidak hanya menjadi ramalan, tetapi berubah menjadi kritik sosial terhadap keadaan ketika nilai moral mengalami pembalikan: yang benar disalahkan, sementara yang salah justru dibenarkan.

Dalam masyarakat yang berada di bawah tekanan, ramalan juga berfungsi sebagai katarsis.

Rakyat mungkin tidak dapat melakukan perlawanan secara langsung, tetapi masih memiliki ruang untuk menyimpan keyakinan bahwa kekuasaan yang zalim pada akhirnya akan berakhir.

Karena itu, Jangka Jayabaya memiliki sedikitnya empat fungsi dalam masyarakat Jawa: Pertama, fungsi politik, sebagai sumber legitimasi kekuasaan. Kedua, fungsi katarsis, sebagai saluran psikologis masyarakat yang mengalami tekanan. Ketiga, fungsi sinkretisme, sebagai jembatan antara warisan Hindu-Buddha, Islam dan kejawen. Keempat, fungsi pendidikan moral, terutama melalui gagasan zaman edan dan harapan datangnya zaman keadilan.

 

JAYABAYA DAN PERDEBATAN PARA AHLI

Dalam kajian sejarah dan kebudayaan Jawa, fenomena Jayabaya juga menjadi bahan perdebatan. Slamet Muljana menempatkan Jayabaya sebagai raja yang perlu dilihat dalam konteks sejarah politik Kediri, bukan semata-mata melalui mitos ramalan.

Poerbatjaraka menaruh perhatian besar terhadap hubungan Jayabaya dengan perkembangan sastra Jawa Kuna, termasuk Bharatayuddha.

Sementara kajian Denys Lombard mengenai sejarah Jawa membantu melihat bagaimana masa lalu dapat ditafsirkan kembali oleh generasi-generasi berikutnya sesuai kebutuhan zamannya.

Dari perspektif tersebut, Jayabaya dapat dipahami sebagai contoh bagaimana sejarah dapat “ditulis kembali” oleh ingatan kolektif. Masyarakat kemudian mengisi sosok Jayabaya dengan harapan, ketakutan dan kebutuhan politik mereka sendiri.

Karena itu, Jayabaya yang ada di dalam prasasti tidak sama dengan Jayabaya yang ada di dalam ramalan. Namun keduanya sama-sama penting.

Yang pertama membantu kita memahami sejarah Kerajaan Kediri. Yang kedua membantu kita memahami jiwa, politik dan kebudayaan masyarakat Jawa.

 

RANGGAWARSITA: PUJANGGA PENUTUP DAN PUNCAK TRADISI JANGKA

Pembahasan mengenai Jayabaya tidak lengkap tanpa menyebut Raden Ngabehi Ranggawarsita, pujangga Keraton Surakarta yang hidup pada 1802–1873.

Ranggawarsita dikenal sebagai “Pujangga Penutup”, karena ia hidup pada masa ketika tatanan Jawa klasik mengalami tekanan yang sangat besar.

Perjanjian Giyanti 1755 telah membelah kekuasaan Mataram. Perang Diponegoro berakhir pada 1830. Pengaruh kolonial Belanda semakin kuat, sementara budaya dan teknologi Barat mulai masuk ke berbagai bidang kehidupan masyarakat Jawa.

Dalam situasi tersebut, Ranggawarsita menulis karya-karya yang sarat dengan refleksi sosial dan moral, terutama Serat Kalatidha. Ungkapan “zaman edan” kemudian menjadi salah satu bagian paling terkenal dari karya tersebut.

Zaman edan menggambarkan keadaan ketika manusia mengalami kesulitan menentukan sikap karena nilai-nilai kehidupan telah mengalami pembalikan. Orang yang benar dapat disalahkan, sementara mereka yang mengikuti arus kekuasaan justru memperoleh keuntungan.

Di sinilah relevansi pemikiran Ranggawarsita dengan kehidupan masyarakat modern masih terasa.

 

RANGGAWARSITA DAN TRADISI JAYABAYA

Dalam tradisi kepustakaan Jawa, Ranggawarsita dikaitkan dengan sejumlah karya dan tradisi jangka. Namun, berbagai teks yang sekarang beredar atas nama Jayabaya tidak semuanya dapat secara sederhana dianggap sebagai karya asli Jayabaya maupun seluruhnya diciptakan Ranggawarsita.

Lebih tepat apabila Ranggawarsita dipandang sebagai salah satu tokoh penting yang menafsirkan, mengembangkan dan menghidupkan kembali tradisi sastra serta pemikiran Jawa tentang zaman dan masa depan.

Jika Jayabaya abad ke-12 adalah raja, maka dalam perkembangan tradisi berikutnya nama Jayabaya menjadi simbol. Dan pada zaman Ranggawarsita, simbol tersebut semakin kuat sebagai peringatan moral terhadap zaman yang sedang berubah.

Di dalam tradisi yang berkembang kemudian, muncul berbagai gambaran mengenai kereta tanpa kuda, kapal tanpa layar, kawat yang dapat berbicara, perebutan tanah dan perubahan kehidupan masyarakat. Semua itu kemudian dibaca sebagai tanda-tanda perubahan zaman.

Namun yang lebih penting bukan apakah semua gambaran tersebut merupakan ramalan literal, melainkan bagaimana masyarakat menggunakannya untuk memahami perubahan yang sedang mereka alami.

 

RATU ADIL SEBAGAI HARAPAN RAKYAT

Pada titik inilah Ratu Adil menjadi sangat penting. Ia merupakan simbol harapan bahwa setelah masa penderitaan akan datang masa keadilan.Dalam sejarah Jawa, gagasan mengenai Ratu Adil bahkan muncul dalam berbagai gerakan sosial dan politik, termasuk menjelang era kemerdekaan.

Harapan tersebut bukan semata-mata tentang hadirnya seorang tokoh. Lebih dalam dari itu, Ratu Adil adalah kerinduan masyarakat terhadap kehidupan yang adil, pemimpin yang benar dan berakhirnya penderitaan rakyat. Karena itu, sampai hari ini gagasan tersebut tetap hidup.

Setiap kali masyarakat merasakan ketidakadilan, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan atau hilangnya kepastian hidup, bayangan tentang datangnya zaman yang lebih baik kembali muncul.

 

MENGAPA RANGGAWARSITA DISEBUT PUJANGGA PENUTUP?

Ranggawarsita disebut Pujangga Penutup karena ia merupakan salah satu tokoh terakhir dari tradisi besar kepujanggaan keraton Jawa klasik. Setelah zamannya, perubahan sosial berlangsung semakin cepat.

Keraton kehilangan sebagian besar kekuasaan politiknya. Bahasa Melayu kemudian berkembang menjadi bahasa penghubung dan akhirnya bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional. Pendidikan modern dan rasionalitas baru juga mengubah cara generasi berikutnya melihat dunia.

Dengan demikian, Ranggawarsita bukan hanya seorang pujangga, tetapi juga saksi dari berakhirnya suatu zaman.

Dalam konteks itulah tradisi Jayabaya mengalami perubahan fungsi. Dari semula menjadi simbol legitimasi dan harapan kekuasaan, kemudian berkembang menjadi peringatan moral dan sumber harapan bagi masyarakat yang mengalami tekanan.

Ranggawarsita menggunakan bahasa sastra untuk tiga hal: mengkritik zamannya, menjelaskan kegelisahan masyarakat, dan memberikan harapan bahwa setelah masa gelap akan datang masa terang.

 

JAYABAYA SEBAGAI CERMIN

Pada akhirnya, sosok Jayabaya tidak cukup hanya ditanyakan: benarkah ia seorang peramal? Pertanyaan yang lebih penting adalah: Mengapa masyarakat Jawa membutuhkan Jayabaya untuk membaca masa depan?

Jawabannya karena Jayabaya telah menjadi simbol. Ketika masyarakat mengalami krisis, mereka mencari penjelasan. Ketika rakyat mengalami penderitaan, mereka mencari harapan. Ketika kekuasaan menjadi tidak adil, mereka membayangkan hadirnya Ratu Adil. Dan ketika zaman terasa kacau, mereka menyebutnya zaman edan. Karena itu, Jayabaya bukan hanya seorang raja. Ia menjadi cermin bagaimana masyarakat Jawa mengingat masa lalu, memahami masa kini dan membayangkan masa depan.

 

PENUTUP

Secara akademis, Jayabaya adalah tokoh sejarah nyata yang memerintah Kediri pada abad ke-12. Bukti prasasti dan karya sastra memberikan dasar yang kuat mengenai keberadaannya.

Namun Jayabaya sebagai peramal dan simbol Ratu Adil merupakan hasil perjalanan panjang kebudayaan Jawa setelah masa hidupnya.

Dengan kata lain: Jayabaya yang ada di dalam prasasti tidak sama dengan Jayabaya yang ada di dalam ramalan. Keduanya sama-sama penting.

Jayabaya dalam prasasti membantu kita memahami sejarah Kediri. Jayabaya dalam ramalan membantu kita memahami jiwa dan politik masyarakat Jawa.

Jika Jayabaya pada abad ke-12 dikenang melalui Bharatayuddha, maka berabad-abad kemudian Ranggawarsita membaca perubahan zamannya melalui Kalatidha dan tradisi jangka.

Di antara keduanya terdapat benang merah yang sama: kegelisahan manusia menghadapi perubahan zaman dan harapan akan hadirnya keadilan. Karena pada akhirnya, rakyat atau kawula selalu menjadi pihak yang paling merasakan dampak dari setiap perubahan politik dan kekuasaan.

Maka, Ratu Adil dapat dipahami bukan semata-mata sebagai seseorang yang akan datang, melainkan sebagai simbol kerinduan rakyat terhadap keadilan. Selama ketidakadilan masih ada, selama kekuasaan masih dipertanyakan, dan selama rakyat masih berharap kehidupan yang lebih baik, maka harapan tentang Ratu Adil akan tetap hidup.

Jayabaya hidup sebagai raja dalam sejarah, sebagai legenda dalam tradisi, sebagai ramalan dalam sastra, dan sebagai cermin harapan dalam kebudayaan Jawa.

Dan mungkin, di situlah sesungguhnya letak keabadian sosok Jayabaya: bukan semata karena ramalannya dipercaya, tetapi karena setiap zaman selalu menemukan kegelisahan dan harapannya sendiri di dalam sosok Jayabaya.

Bagi penulis, Sosok Raden Ngabehi Ronggo Warsito lah sesungguhnya sangat Peramal Legenda, untuk  masa depan Indonesia , dimana Ronggo Warsito meminjam sosok sejarah masa lalu ( Raja Jayabaya ) yang berkuasa pada abad ke 12 di Kediri sebagai sosok yang ditulis sebagai peramal . Hal ini menunjukan kerendahan hati seorang Pujangga Penutup sebagai bagian dari darma bakti nya kepada bangsanya  beliau sosok ahli kebatinan Jawa yang dapat disandingkan sekaliber Michel de Nostrademus (Prancis).

 

 

Bagikan artikel:

Baca Juga

adminpaskalis

Tim redaksi dan penulis Beranda Negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *