Lewati ke konten
Media Indonesia • Aktual, Ringkas, Terpercaya
IklanBanner iklan
OPINI

Melahirkan dan Membesarkan Teroris (Führer dalam Filsafat Heidegger)

18 pembaca
Bagikan

 

Oleh: Dr. Paul Budi Kleden, SVD

 

Pendahuluan

Terorisme sudah sering diumpamakan dengan wabah atau virus yang menyebar cepat dan mengancam peradaban manusia di mana-mana. Seiring dengan itu, gelombang penggalangan tekad dan pembentukan pakta kerja sama untuk menghadapi terorisme internasional pun menjadi semakin intensif. Dimotori oleh USA sejak penyerangan terhadap menara kembar di New York pada tanggal 11 September 2001, orang membentuk Koalisi Milenium untuk menghancurkan apa yang disebut sebagai “poros setan” atau “sel tidur” terorisme. Angin kejengkelan terhadap terorisme internasional yang timbul karena aksi teroris itu memang berperan penting dalam keberhasilan lobby USA untuk mendesak PBB mengeluarkan Resolusi Nomor 1373 tahun 2001 yang mengecam terorisme dan mendorong kerja sama internasional untuk memeranginya. Selain membentuk jaringan kerja sama internasional, USA sendiri memperketat pengamanan internalnya dengan menerbitkan Internal Security Act (ISA), yang membenarkan aparat negara melakukan penangkapan dan penahanan terhadap orang-orang yang diduga teroris, tanpa pendampingan pengacara.¹

Di tengah kecenderungan ini tumbuh kesadaran bahwa kita perlu membuat pembedaan yang tepat antara berbagai bentuk aksi kekerasan. Hal ini dibutuhkan agar tidak semua kekerasan disamakan dengan terorisme. Prinsip diferensiasi harus digunakan agar kita tidak terjebak dalam tendensi penyeragaman yang menghancurkan semua atas nama perjuangan melawan terorisme. Bukan mustahil, dengan ideologi semacam ini orang sebenarnya hendak membawa dunia

Kepada satu persekongkolan untuk menghadapi dan membasmi lawan yang tidak dapat diatasinya selama dia menggunakan label lain untuk lawannya itu. Kekerasan memang harus diperangi, tetapi cara perlawanan terhadapnya menuntut kesanggupan untuk membuat pembedaan. Jika tidak, dunia akan dimiskinkan dari kehadiran berbagai kekuatan yang bersaing. Kekuatan-kekuatan alternatif dihancurkan secara militer atau secara moral, dengan memanfaatkan resistensi internasional terhadap terorisme.

Selain itu, kewaspadaan di tengah emosi yang terbakar itu diperlukan, karena tidak mengada-ada apabila dikatakan bahwa USA sebenarnya sedang menggunakan gerakan perlawanan terorisme internasional sebagai kesempatan untuk mengembalikan hegemoninya atas dunia. Obsesi menjadi “polisi dunia”, yang menurutnya diperlukan untuk menjamin keamanan kapitalisme dunia, kembali menemukan peluangnya untuk diwujudkan dengan menggunakan isu terorisme internasional ini.

Apa yang dilaksanakan USA pada skala internasional, dapat pula menemukan padanannya dalam bentuk pemerintahan nasional dalam satu negara. Semua motif yang dipaparkan sebagai alasan sah perlunya kewaspadaan di atas, dapat pula dijadikan alasan untuk mewaspadai kecenderungan pemerintahan satu negara yang menggunakan isu terorisme sebagai kedok untuk mengatasi berbagai pemikiran alternatif yang berkembang di dalam masyarakat. Kekuatan tertentu di dalam negara yang hendak merebut kembali posisi sentralnya, menemukan angin yang menguntungkan untuk merealisasikan mimpinya dalam histeria massa terhadap terorisme. Dengan alasan terorisme, orang yang dicurigai dan dijengkeli dapat ditahan dan dihukum begitu saja.

Pemikiran-pemikiran di atas disampaikan, sekali lagi, bukan untuk meremehkan kejahatan dari terorisme internasional, melainkan untuk mencegah munculnya tindak kekerasan dan ketidakadilan baru atas nama pengeroyokan terhadap terorisme. Bukan tidak mungkin, dengan sikap tidak kritis yang menerima begitu saja segala bentuk inisiatif pembentukan pakta antiterorisme, sebenarnya kita sedang melibatkan diri dalam melahirkan dan membesarkan teroris baru. Teroris baru itu terbungkus dalam baju pahlawan, yang baru kemudian ketahuan belangnya sebagai teroris. Tuduhan yang dilontarkan banyak pemikir kritis, seperti K.H. Abu Bakar Ba’asyir dalam pleidoinya, ke alamat USA dan sekutunya, mempunyai pendasarannya di sini, yakni bahwa dengan pekikan perang anti terorisme seperti yang dikehendaki USA, bukan tidak mungkin benar bahwa kita sedang memberi angin bagi tampilnya sebuah rezim teroris baru.

Kenyataan di atas menunjukkan bahwa ada kerangka berpikir dan berargumentasi yang secara sengaja atau tanpa sengaja menjadi rahim yang melahirkan teroris, atau yang membutakan orang untuk menangkap kelahirannya. Ada paradigma berpikir yang mudah menjadi selubung yang menutup kelahiran seorang teroris tanpa banyak direkam oleh massa. Baru kemudian, setelah tindak kekerasannya menyentakkan dunia, paradigma pemikiran itu sendiri pun mulai dipertanyakan secara kritis. Sebab itu, penelitian paradigma berpikir seputar lahir dan berkembangnya sebuah rezim teroris menjadi sangat penting untuk mewaspadai kemungkinan baru bagi tampilnya satu sosok dan rezim yang kejam.

Berdasarkan alur pemikiran seperti ini, di dalam tulisan ini saya hendak bertanya, apa yang ada di dalam filsafat Heidegger sehingga sering disebut sebagai filsafat yang menyilaukan pandangan orang dari tatapan kritis terhadap Nazi-Hitler? Apakah ada filsafat tertentu, yang turut menyiapkan lahan bagi munculnya tokoh-tokoh besar tersebut dalam bidang politik horor? Apakah ada sistem berpikir tertentu yang membuat orang buta terhadap tampilnya sosok yang membawa kehancuran bagi kemanusiaan? Apa yang diperlukan setiap individu dan seluruh masyarakat agar dapat menghindar dari paradigma berpikir seperti itu? Pertanyaan-pertanyaan ini hendak dibahas di dalam tulisan ini. Kita hendak meneliti, sejauh mana dan bagaimana Martin

Heidegger berbicara tentang persoalan ini. Namun sebelum itu, kita terlebih dahulu menguraikan masalah Hitler dan terorisme.

 

  1. Adolf Hitler: Seorang Teroris?

Pertanyaan yang paling mudah ditebak akan muncul apabila orang hendak menghubungkan uraian tentang filsafat Heidegger dengan terorisme adalah: Apakah Hitler seorang teroris? Pertanyaan ini dapat dipahami, karena memang Heidegger berbicara tentang Sang Führer, Hitler. Namun apakah Hitler seorang teroris? Jawaban atas pertanyaan ini sekaligus merupakan tanggapan atas permasalahan yang disampaikan di atas, bahwa tanpa sebuah definisi yang jelas dan tepat pengertian terorisme akan terlampau mudah dimanipulasi demi kepentingan-kepentingan seseorang atau satu kelompok orang.

Yang disebut sebagai satu tindakan teroristis adalah tindakan tertutup yang menggunakan kekerasan oleh satu atau lebih orang, dengan tujuan menekan atau memaksa orang atau satu kelompok orang di bawah ancaman agar melakukan apa yang dicita-citakan si teroris. Terorisme dipahami sebagai satu gerakan tersembunyi yang menggunakan kekerasan untuk menakut-nakuti dan dengan demikian memaksa satu atau sekelompok orang demi mewujudkan ideal seorang teroris.

Dari deskripsi di atas kita melihat tiga unsur yang selalu ada di dalam satu aksi teror. Pertama adalah bahwa tindakan teroristis itu dilakukan secara tertutup; maksudnya bahwa pelaksana dari tindakan itu adalah satu organisasi yang tertutup atau perorangan tanpa membiarkan pihak yang diserang tahu bahwa dirinya sedang menjadi incaran yang spesifik. Kita tidak berbicara tentang terorisme kalau hal itu dilakukan secara terbuka dan resmi oleh aparat resmi satu negara terhadap para warganya atau terhadap negara lainnya. Selain itu, kita tidak berbicara tentang terorisme kalau kekerasan itu terjadi dalam satu medan terbuka, di mana semua pihak yang terlibat mengetahui bahwa mereka sedang terlibat dalam satu konflik. Kekerasan yang terjadi antara dua atau lebih kekuatan yang terlibat dalam satu perang di medan perang, misalnya, tidak disebut sebagai satu aksi teror, walaupun perang bisa dimenangkan dengan terorisme. Terorisme bukanlah sebuah aksi publik yang direncanakan secara publik. Sebaliknya, ini adalah satu gerakan rahasia dan tersembunyi.

Kedua, terorisme menggunakan kekerasan. Terorisme tidak menggunakan ajakan untuk membelokkan orang dari sikap semula. Kekerasan sering diarahkan langsung kepada pihak yang sikapnya hendak diubah, atau kepada mereka yang sama sekali tidak bersalah. Sasaran yang tidak bersalah ini dijadikan alat untuk menekan kelompok yang dianggap sebagai musuh sebenarnya. Karena itu, setiap orang merasa terancam oleh terorisme. Kita tidak mengetahui, apakah kita sedang menjadi incaran para teroris. Di bawah ancaman para teroris semua orang merasa tak berdaya, sebab semua orang secara potensial dapat menjadi sasaran penggunaan kekerasan mereka.

Ketiga, tujuan terorisme adalah menimbulkan rasa takut sehingga orang menyerah kepada tuntutan para teroris. Dengan melakukan aksi teror, orang atau kelompok orang itu memaksa orang lain untuk mematuhi apa yang dikehendakinya. Namun, seperti dikatakan di atas, tujuan ini tidak hanya dicapai dengan melakukan aksi kekerasan terhadap orang yang berkepentingan langsung dalam satu keputusan. Sering kali, justru mereka yang berkepentingan langsung tidak disentuh. Yang diperlakukan dengan kekerasan adalah mereka yang berada di bawah tanggung jawab pihak yang hendak dipaksa itu.

Dari uraian di atas menjadi jelas bahwa terorisme mesti dibedakan dari tindak kekerasan yang dilakukan secara terbuka oleh aparat resmi sebuah negara dalam kapasitasnya sebagai aparat negara. Akan tetapi, pernyataan ini tidak bermaksud mengatakan bahwa tidak ada aksi teror yang dilakukan oleh negara atau aparat negara. Aparat negara dapat saja terlibat di dalam terorisme, apabila aparat negara itu secara tersembunyi menggunakan cara kekerasan untuk menekan para warga dan memaksa mereka untuk melaksanakan tindakan tertentu. Aparat negara disebut teroris jika mereka, tanpa melalui sebuah penyampaian resmi kepada masyarakat, menempatkan mata-mata di dalam masyarakat, membuat struktur dan menyebarkan isu yang menciptakan suasana saling mencurigai dan menakutkan di antara para warga. Para warga tidak mengetahui dan tidak dapat mengontrol apa yang dilakukan aparatnya. Namun mereka dapat merasakan akibat dari aksi-aksi rahasia itu.

Apabila pernyataan di atas diterima, sebenarnya dapat dikatakan demikian: semakin otoriter sebuah rezim, semakin mudah dia berwujud teror. Otoritarianisme sangat dekat dengan terorisme. Sebuah rezim yang otoritarian ditandai oleh penyempitan kelompok orang yang terlibat dalam mempertimbangkan dan mengambil keputusan-keputusan penting. Selain itu, otoritarianisme pun dicirikan oleh tidak adanya kesadaran akan kewajiban untuk mempertanggungjawabkan keputusan dan tindakan-tindakan politis yang diambil kepada publik. Aparat negara menjadi sesuatu yang sangat rahasia dan tak terjangkau oleh kesanggupan dan kemungkinan kontrol para warga.

Menggunakan pemahaman seperti ini, dengan mudah kita dapat memasukkan Adolf Hitler dan rezim National-Sosialisme-nya (Nazi) sebagai satu bentuk terorisme. Memang ada peraturan perundangan yang dikeluarkan secara resmi untuk membatasi ruang gerak orang-orang Yahudi. Akan tetapi, tidak pernah dikatakan secara publik apa yang terjadi dengan mereka yang dideportasi ke kamp-kamp konsentrasi. Aparat negara menyebarkan sekian banyak mata-mata, sehingga para warga hidup dalam suasana saling mencurigai dan penuh ketakutan. Ketakutan tidak hanya menjadi kenyataan sehari-hari warga keturunan Yahudi. Para warga Jerman juga diliputi ketakutan, sebab tanpa ada alasan yang jelas setiap saat mereka dapat dijemput dan dideportasi.

Namun teroris ini, karena tampil sebagai pemimpin dengan ideologi politik tertentu, ternyata mendapat dukungan dari banyak warga, termasuk di dalamnya seorang pemikir besar, Martin Heidegger. Heidegger melihat di dalam Hitler perwujudan dari apa yang direnungkannya di dalam permenungan filosofisnya. Sikap Heidegger ini dituangkannya dalam beberapa tulisan. Akan tetapi kemudian, Heidegger mengubah pandangannya tentang Hitler. Pandangan-pandangan Heidegger ini akan menjadi pokok pembicaraan selanjutnya.

 

  1. Heidegger: Mencari Führer di Tengah Kekosongan

Tentu saja Hitler, si teroris itu, tidak muncul begitu saja dalam sejarah. Memang ada banyak usaha untuk mempelajari kondisi sosial dan historis yang memungkinkan adanya pemimpin sekejam Hitler dan rezim sekeras Nazi. Ada yang berusaha menjelaskan fenomen Hitler ini dari perspektif sejarah kekalahan Jerman dalam PD I dan mentalitas orang Jerman yang sangat patuh. Trauma sebagai bangsa besar yang terkalahkan oleh musuh bebuyutan Prancis kini hendak diatasi dengan kekuatan yang ditampilkan seorang pemimpin yang memukau dan pantas dipercaya. Pemusnahan ras Yahudi dilihat sebagai cara yang paling efektif untuk menghancurkan napas politik para pemenang PD I yang sangat dipengaruhi oleh orang-orang Yahudi. Yang lain mencoba menunjukkan dasar kekejaman itu pada benih-benih antisemitisme yang telah bercokol di dalam tradisi kekristenan yang panjang. Orang-orang Jerman yang Kristen itu melihat Hitler sebagai tokoh politik, melalului pembalasan terhadap bangsa Yahudi atas kekejaman mereka membunuh Yesus Kristus, Putra Allah. Alasan lain didasarkan pada sentimen sosial yang tumbuh antara bangsa Jerman dan bangsa Yahudi. Ketekunan dan kerja kerasnya telah membawa orang Yahudi kepada kesejahteraan yang melampaui orang-orang Jerman. Mereka menguasai sektor-sektor ekonomi yang penting, seperti perbankan dan perdagangan. Sentimen sosial ini menemukan pengungkapannya ketika seorang tokoh politik tampil dan menyuarakan secara meyakinkan nasionalisme satu bangsa.

Selain alasan-alasan di atas, kenyataan bahwa Martin Heidegger, untuk waktu tertentu, menjadi pendukung rezim ini, adalah satu alasan yang tidak dapat diremehkan. Popularitas pengarang buku Sein und Zeit yang diterbitkan tahun 1929 ini sangat besar di antara banyak orang muda dan kaum intelektual seumumnya di Jerman. Sebab itu, apa yang menjadi sikapnya pada waktu itu menjadi orientasi bagi banyak orang lain. Sikap Heidegger sendiri mesti dibedakan dalam dua periode. Periode pertama berlangsung sejak awal kariernya sebagai filsuf sampai tahun 1934. Tahap kedua dimulai sejak tahun 1934 dan diikuti secara konsekuen sesudah PD II. Periode pertama ditandai oleh interpretasi yang salah atas kenyataan sejarah, sementara pada periode kedua terjadi sebuah pembalikan pandangan atas manusia. Pembalikan ini sebenarnya sudah tampak sejak tahun 1934, namun baru ditunjukkan dalam publikasi-publikasi sesudah PD II. Kita akan memperhatikan kedua periode ini.

 2.1 Sein und Zeit: Ungkapan Sebuah Kegelisahan

Karya monumental Heidegger Sein und Zeit² hendak menjawab pertanyaan dasarnya tentang makna dari Sein. Pertanyaan ini dijawab dengan menganalisis manusia sebagai Dasein, sebab: Der Seinssinn des Daseins ist nicht ein freischwebendes Anderes und ‚Ausserhalb’ seiner selbst, sondern das sich verstehende Dasein selbst (makna ada dari Dasein bukanlah sesuatu yang lain, yang terlepas dari dan di luar dari Sein, melainkan adalah Dasein yang memahami dirinya sendiri). Pada manusia yang memahami dirinya Sein itu tampil. Kalau demikian, pertanyaan akan Sein dijawab dengan membuat telaah filosofis atas manusia. Namun analisis ini tidak berangkat dari proses berpikir yang abstrak. Sein tidak ditampakkan manusia dalam bangunan pemikiran yang reflektif, melainkan dalam fenomen-fenomen, melaluinya manusia keluar (ek-sistensi) dari ketidaktentuan dirinya untuk menjadi diri yang tertentu. Sebab itu, analisis atas Dasein adalah analisis atas apa yang disebut eksistensial-eksistensial tertentu. Pada bagian pertama Sein und Zeit, ditunjukkan eksistensial dasar seperti In-der-Welt-sein (ada di dalam dunia), Verstehen (memahami) dan Rede (pembicaraan).

Pada bagian kedua Sein und Zeit, Heidegger memilih analisis eksistensial atas waktu, kematian, kecemasan dan ketakutan. Di sini Heidegger bukan hanya mengurai sebuah kebenaran filosofis yang abstrak dan tetap benar, melainkan sebuah pengalaman yang sungguh merupakan bagian dari keseharian manusia zamannya.⁴ Memang cara pandang Heidegger masih dijiwai oleh sebuah keinginan untuk membuat analisis atas Sein dari perspektif filosofis yang ketat. Namun pilihan terhadap kecemasan (Sorge), ketakutan (Angst), rasa bersalah (Schuld) sebagai eksistensial untuk menjelaskan manusia, sebenarnya sudah menunjukkan suasana zaman yang mempengaruhinya. Mengapa Heidegger tidak memilih, misalnya, cinta atau harapan? Tidak dapat dipungkiri bahwa fenomen-fenomen ini pun dapat dijadikan eksistensial untuk mengurai manusia sebagai Dasein.

Kenyataan di atas hanya dapat dijelaskan dengan mengatakan bahwa kondisi zaman yang diwarnai oleh kecemasan dan ketakutan telah mempengaruhi Heidegger dalam berfilsafat. Tanpa disadari Sein und Zeit sebenarnya telah menjadi sebuah cerminan yang merefleksikan situasi metafisis, sosial dan politis di Jerman pada awal abad ke-20. Kekalahan Jerman dalam PDI dari musuh bebuyutan Prancis, perekonomian yang morat-marit, kehancuran pasar uang dunia dalam bulan Oktober 1929 dihadapkan pada kesadaran akan kejayaan bangsa ini sebagai “eine Nation der Denker und Dichter” (bangsa para pemikir dan penyair), menjadi sebab dari kegelisahan ini. Selain itu, Heidegger yang berasal dari wilayah yang aman dan terlindung di Black Forest yang relatif konservatif merasa terancam di tengah sebuah suasana yang mempertanyakan kemampuan Jerman sebagai bangsa untuk bertahan dalam percaturan antarbangsa Eropa. Dia yang berasal dari keluarga sederhana mengalami kegoncangan ekonomi pada tahun 1929 sebagai sebuah ancaman yang sangat serius.

Kecemasan ini terungkap dalam Sein und Zeit sebagai sebuah situasi manusia yang terlempar ke dalam dunia dan terarah kepada masa depan, yang pada akhirnya adalah kematian. Hanya dari keterarahan waktu karena kematian ini manusia dapat mengalami hidupnya sebagai satu kesatuan. Karena terarah kepada masa depan dengan kematian sebagai satu-satunya kepastian, maka manusia diliputi kecemasan dan ketakutan. Dia mengalami dirinya sebagai yang terombang-ambing antara ada dan tidak ada. Sebab itu, pertanyaan dasar manusia adalah: kenapa sesuatu itu ada dan bukannya tidak ada?⁵

Manusia adalah Dasein yang terarah kepada masa depan dan ditentukan oleh waktu, karena itu dia mengalami adanya sebagai yang belum (Noch-Nicht). Keterarahan kepada masa depan ini membangkitkan kesadaran akan kesejarahannya (Geschichtlichkeit). Kesadaran akan kesejarahan sebenarnya adalah ekspresi masuknya kematian ke dalam kehidupan. Dengan ini orang merasakan ketakutan. Akan tetapi di lain pihak, orang terarah kepada masa depan, kepada kematian. Ini adalah sebuah tuntutan untuk mengisi kehidupan, untuk menjadi diri, untuk keluar dari penjara keterbiasaan dan keterkungkungan dalam ketakutan. Orang mesti menjadi dirinya sendiri, menghayati Eigentlichkeit, sebagai bentuk pemerdekaan dari belenggu pada yang biasa, pada das Man.

Dengan ini Sein und Zeit tidak hanya berbicara tentang kecemasan dan ketakutan, tetapi mengungkapkan kerinduan dan dorongan yang kuat untuk menampilkan diri secara benar. Kecemasan mesti ditanggapi bukan dengan membiarkan diri tenggelam di dalamnya, melainkan dengan berusaha keluar dari dirinya. Heidegger cemas, tetapi juga mengimpikan momen dan fenomen yang sanggup membebaskan.

Apa yang diuraikan sebagai pengalaman individual ini, menjadi basis bagi sebuah pengalaman kecemasan dan kerinduan pembebasan kolektif ketika Heidegger menyampaikan pidatonya pada kesempatan pelantikannya sebagai Rektor Universitas Freiburg im Breisgau pada 27 Mei 1933. Pidato itu berjudul: “Die Selbstbehauptung der deutschen Universität” (Penegasan Diri Universitas Jerman). Heidegger yang dipilih menggantikan von Möllendorf, yang sudah terpilih oleh senat dosen namun tidak disetujui oleh Nazi⁶, berbicara tentang datangnya era baru. Jerman menghadapi era baru bersama Hitler dan Nazi. Heidegger melihat dalam Hitler dan rezimnya harapan bagi perwujudan diri yang sebenarnya dari bangsa Jerman. Hitler dan Nazi adalah figur dan sistem, melaluinya bangsa Jerman yang sekian lama tenggelam dalam keterpurukan das Man, keluar, ber-ek-sistensi menunjukkan Eigentlichkeit-nya. Apa yang diupayakan Heidegger melalui sebuah kerangka filosofis, kini menjadi kenyataan untuk kesatuan bangsa Jerman oleh tampilnya Hitler pada panggung politik. Kalau demikian, pandangan Heidegger terhadap Hitler seperti ini bukanlah sebuah kekeliruan, melainkan sejalan dengan alur konsep filosofisnya pada waktu itu. Sebagai filsuf yang meyakini diri sebagai pembawa pembebasan berpikir, Heidegger sedang mencari padanannya dalam sosok seorang pembebas kolektif, dan dia menemukannya pada diri Hitler.⁷

Heidegger sebenarnya sadar bahwa rezim Nazi tidak memiliki penghargaan yang terlampau tinggi terhadap universitas-universitas yang dinilai terlalu dijiwai semangat humanisme dan gagal mendidik secara benar dan militan kaum muda Jerman. Dalam kesadaran seperti ini, Heidegger menyampaikan pidatonya dengan maksud untuk menegaskan jati diri universitas-universitas Jerman. Tugas universitas adalah memungkinkan perwujudan diri bangsa Jerman sebagai bangsa yang besar, berkuasa dan berbudaya, sebagaimana telah ada di dalam sejarah. Ada dua tumpuan perwujudan diri yang benar sebagai bangsa: landasan intelektual yang tak tertandingi dan rezim politis yang berkuasa penuh. Jerman hanya dapat kembali ber-ek-sistensi seperti itu apabila ada Führer yang berdisiplin, yang didampingi oleh sebuah rezim intelektual yang orisinal.

Jati diri Universitas Jerman itu hanya dapat diwujudkan apabila universitas berada dalam tangan seorang pemimpin yang benar. Dan Heidegger memaksudkan dengan itu dirinya sendiri. Dia mengungkapkan hal ini dalam kalimat pertama pidatonya: “Penerimaan tugas sebagai Rektor adalah sebuah kesediaan untuk mewajibkan diri menjalankan kepemimpinan intelektual dari lembaga pendidikan tinggi ini”.⁸ Dalam keseluruhan pidato itu Heidegger menekankan pentingnya konsentrasi civitas academica pada karya intelektual. “Bagi kami, Universitas Jerman sebagai lembaga pendidikan tinggi, dengan bantuan pengetahuan, mendidik dan menempa para pemimpin (Führer) dan pelindung (Hüter) bangsa Jerman.”⁹ Untuk itu, dalam pendidikan para pemimpin mesti terlebih dahulu dipimpin.¹⁰

Dengan ini tampaknya Heidegger hendak menempatkan para pemimpin politik, termasuk Hitler, di bawah pengaruh kepemimpinan intelektualnya. Dengan memberikan pendasaran filosofis bagi adanya Führer, Heidegger sebenarnya hendak menunjukkan prioritas kepemimpinan intelektual. Akan tetapi, kepemimpinan intelektual itu kini terobesesi pada perwujudan diri satu bangsa, sebab itu tidak sanggup memberikan batasan-batasan etis tentang bagaimana kekuasaan politis itu harus dilaksanakan.

Mengomentari pidato tersebut, Karl Löwith mengatakan: “Dibandingkan dengan sekian banyak pidato lain yang tak terbilang banyaknya, yang disampaikan para Profesor sesudah pengambilalihan kekuasaan waktu itu, pidato ini bersifat filosofis dan sangat menantang, satu karya luar biasa…. Pengabdian dalam dunia kerja dan dalam angkatan perang menjadi satu dengan pengabdian dalam dunia ilmu pengetahuan… sehingga pada akhirnya orang tidak tahu, entahkah orang mesti membaca uraian filosofis dari Diel tentang para filsuf pra Sokrates atau mesti berbasis dengan SA.”¹¹ Komentar ini menunjukkan betapa kuat Heidegger menempatkan dirinya sekurang-kurangnya sejajar dengan Hitler dalam sebuah obsesi besar untuk mengembalikan pamor sebuah bangsa dan peradaban.

Dari uraian ini kiranya menjadi jelas bagaimana suasana kecemasan dan ketakutan karena berbagai permasalahan sosial dan politik telah mengantar Heidegger kepada sebuah obsesi untuk mencari pembebasan yang bersifat filosofis dan politis. Permasalahan menjadi serius tatkala yang dihadapi adalah seorang filsuf dengan nasionalisme yang kuat, yang merangkai pembebasan itu dengan kebangkitan sebuah kelompok sosial atau satu tatanan politis. Sebuah sistem filosofis yang nasionalistis dan totalistis bisa akan turut membidani kelahiran rezim yang otoriter dan teroristis, atau akan membiarkan rezim itu bertumbuh subur tanpa sebuah kesanggupan dan kesediaan untuk mengkritiknya.

 

2.2 Pembalikan: Sebuah Perhitungan dengan Diri

Pada awal tahun 1934 Heidegger menjadi sadar bahwa kedekatannya pada Hitler dan Nazinya adalah sebuah langkah yang harus segera ditinggalkan. Arah filsafatnya harus segera dibalikkan. Pembalikan ini mesti ditunjukkan dalam sebuah sikap politis. Maka, pada tanggal 23 April 1934 Heidegger mengajukan surat permohonan penarikan diri, dan pada tanggal 27 April permohonan itu dikabulkan oleh Menteri Pendidikan. Perubahan konsep filosofis ini ditunjukkan dalam beberapa tulisan. Dalam tulisan Überwindung der Metaphysik¹² yang sudah mulai disusun sejak tahun 1936 menjadi jelas konsep Heidegger akan situasi manusia yang menafsir secara salah Sein. Keseluruhan upaya Heidegger dalam periode yang ditandai oleh Kehre (Pembalikan) adalah usaha untuk menunjukkan di mana letak kesalahan itu. Manusia memahami Sein seperti seiendes, manusia mengobjektivikasi Sein. Dia meninggalkan Sein (Seinsverlassenheit).

Dalam tulisan ini Heidegger sepertinya mempertanggungjawabkan kesalahannya. Kini sosok Führer dinilai sebagai akibat niscaya dari kenyataan bahwa pengada (das Seiende) sudah dihayati secara salah. Führer adalah dia yang menyalahgunakan keadaan manusia yang mengalami kekosongan karena ketiadaan pegangan dan kepastian.

Manusia yang senantiasa terarah kepada masa depan, yang senantiasa mesti merancangkan dirinya menuju masa depan itu, disalahgunakan oleh Führer yang menjanjikan kekuasaan sekarang untuk menjamin kepastian dan masa depan. Führer mengambil alih tugas menjadi diri yang seharusnya merupakan projek diri setiap manusia. Dia menjadikan dirinya tuan atas manusia yang terlempar ke dalam situasi pencarian.

Orang seperti ini memiliki satu kemampuan khusus, yang disebut Heidegger sebagai instink. Instink adalah kemampuan khusus yang melampaui intelek, sebab apabila intelek terarah kepada penggunaan yang tepat dari apa yang ada, maka instink membawa orang kepada penyalahgunaannya. Penyalahgunaan mengandaikan pengetahuan intelektual akan penggunaan yang sebenarnya. Instink sebagai kemampuan yang mengatasi intelek sekaligus mendekatkan Führer pada binatang.¹³ Dengan instinknya Führer mengeksploitasi semua yang ada. Menyejajarkan Führer dengan binatang tentu merupakan sebuah rumusan yang sungguh terbalik dari pemujaan pada tahun 1933.

Führer menggunakan manusia secara salah sebagai alat untuk mencapai apa yang menjadi obsesinya sendiri. Untuk itu, Führer dapat membersihkan keluarga umat manusia dari ras dan kelompok yang dipandang menodai kemanusiaan. Pembasmian orang-orang Yahudi, Shinti dan Binti serta para homoseksual lahir dari konsep seperti ini. Selain itu, dapat menggalang dan mendorong penciptaan manusia baru Führer yang ideal, yang dapat digunakan sebagai sarana yang berdayaguna. Menurut Heidegger, dalam pandangan Führer seperti ini kebutuhan akan manusia baru tidak ada bedanya dengan kebutuhan akan buku-buku keuangan di kantor atau buku-buku puisi di rumah. Semuanya untuk melayani kebutuhan dan kepentingan Führer. Dia memperhatikan dan menggunakan dunia sebagai sebuah instrumen teknis, yang akan berfungsi apabila ada sekian banyak peralatan tersedia. Manusia tidak lebih dari alat dan organ pada mesin teknik yang sedang dibangunnya.

Namun persoalan Führer bukan hanya masalah kesanggupannya menampilkan diri sebagai penjamin kepastian. Juga pada pihak para pengikut, ada kesalahan fundamental yang mesti disingkapkan secara filosofis. Sebab itu, Heidegger berbicara tentang hubungan yang erat antara Untermenschentum dan Übermenschentum.¹⁴ Manusia yang lupa akan Sein sebagai dasar keberadaan yang terus-menerus menyingkapkan diri dan tidak pernah dapat diidentikkan dengan apapun yang kategorikal, terperangkap dalam jerat yang dipasang seorang Führer. Ketaksanggupan untuk hidup dalam kekosongan dan ketidakpastian ini hendak dikompensasikan dengan mencari figur dan tokoh yang menjanjikan masa depan. Manusia menjadikan seiendes yang kontingen Sein yang absolut, mengalihkan manusia yang terbatas menjadi Tuhan yang berkuasa penuh. Dengan sikap seperti ini manusia akan mudah membenarkan segala macam langkah yang dilakukan oleh Führer, yang berdampak pada peningkatan harga diri dan kepastian hidupnya. Sebab itu, Heidegger melihat Führer sebagai figur yang kemunculannya adalah sebuah keniscayaan dalam sebuah masyarakat yang memposisikan Sein sebagai seiendes.

Munculnya Führer bukan hanya karena nafsu menguasai yang ada pada diri mereka, tetapi karena sebuah pemahaman yang keliru tentang manusia dan dunia, yang melihat yang absolut terwujud di dalam yang kategorikal. Bagi orang-orang ini, peran penting yang dipenuhi Führer adalah memberikan kepastian bagi tatanan sosial yang ada sebagai basis untuk menciptakan keteraturan selanjutnya. Mereka mengalami dunia sebagai khaos, yang mesti diatasi dengan penataan total, yang harus dimulai di dalam kelompok tertentu.¹⁵ Kelompok tertentu, agama tertentu, ras tertentu merasa dipanggil untuk memulai penataan total itu. Dengan ini ada semacam mesianisme yang terdapat di dalam kelompok masyarakat yang melahirkan dan membesarkan Führer dan rezimnya. Bersama Führer-nya mereka hendak mengatur dunia dan mengarahkannya kepada tujuan yang mereka yakini sebagai benar.

Penempatan satu figur sebagai Führer yang mengisi kekosongan dan ketidakpastian berdampak pula pada pendegradasian berbagai bidang kehidupan menjadi sektor dari sebuah lingkaran kehidupan. Apa yang menjadi kepentingan Führer berada di tengah lingkaran, sementara segala yang lain adalah bagian-bagian yang harus diselenggarakan sesuai pertimbangan kepentingan dan keputusan dari pusat lingkaran.¹⁶ Seorang Führer menjadi absolut, tidak hanya melalui mekanisme kekuasaan yang langsung, tetapi juga dalam bentuk-bentuk tidak langsung, seperti penguasaan atas kebudayaan, pendidikan atau media massa. Melalui sarana-sarana ini, Führer yang absolutistis mengontrol semua dari titik sentralnya.

Dengan ini menjadi jelas bahwa apa yang sebelumnya hadir sebagai motif yang tidak disadari, kini muncul sebagai kristal-kristal sebuah refleksi filosofis. Heidegger memaparkan sendiri secara filosofis apa sebenarnya yang terjadi dengan dirinya pada waktu sebelumnya. Kecemasan, ketakutan dan ketidakpastian telah mengantarnya untuk menaruh harapan pada Hitler dan rezimnya. Kini, dia menyingkapkan keseluruhan suasana yang telah mempengaruhinya di dalam sebuah telaah filosofis yang mendalam.

 

  1. Mewaspadai Teroris Bersama Heidegger

Dari uraian di atas dapat diangkat beberapa hal yang merupakan kondisi sosial dan filosofis yang memungkinkan lahir dan tampilnya seorang atau sebuah rezim teroris. Pertama adalah kecenderungan untuk memiliki kepastian yang absolut. Di tengah pengalaman ketidakpastian yang semakin intensif sebagai akibat dari meningkatnya mobilitas pertukaran antarmanusia, budaya dan agama, sebuah obsesi filosofis kepada kepastian yang absolut akan mudah terjebak dalam keinginan untuk mencari figur-figur politis yang meniadakan segala pertanyaan. Bahaya seperti ini kurang dialami selama kita masih hidup di dalam sebuah dunia yang relatif homogen. Namun sekarang, berhadapan dengan kejamakan yang membawa banyak kerancuan dan kegoyahan, sebuah konsep filosofis yang hendak menawarkan landasan sikap yang dogmatis, akan mudah turut membidani kelahiran para teroris. Konsep filosofis seperti ini akan sekurang-kurangnya bisu di hadapan kekejaman teroris yang hendak memperjuangkan kepastian pahamnya dengan menggunakan kekerasan.

Di lain pihak perlu dipikirkan bahwa filsafat pun hanya akan memperparah keadaan khaos ini apabila dia hadir tanpa sebuah tawaran kepastian. Pengalaman akan khaos dapat menjadi semakin radikal, dan radikalitas ini tidak mustahil mengantar orang kepada pandangan dan tindakan yang teroris. Orang kehilangan orientasi secara total, dan dalam keadaan seperti ini orang pun akan lebih mudah terperangkap ke dalam ideologi terorisme yang ditawarkan. Dalam kondisi seperti ini sering tidak diperlukan lagi sebuah filsafat khusus untuk membidani terorisme.

Di antara kedua ekstrem ini, filsafat sebagaimana telah ditunjukkan Heidegger pada era Kehre dapat menjadi sebuah model. Heidegger menunjukkan kekosongan sebagai arena perwujudan diri manusia, namun kekosongan ini tidak dapat disamakan begitu saja dengan nihilitas total, sebab kekosongan itu adalah modus kehadiran Sein yang tidak dapat diobjektivikasi.¹⁷ Hidup, kendati tidak tetap diwarnai oleh ciri provisiorisnya, tetap bukanlah tanpa makna. Filsafat perlu menunjukkan perlunya rencana bangunan yang dibuat manusia untuk mengarahkan hidupnya, namun rancangan tersebut selalu bersifat provisioris tanpa sebuah nilai absolut. Rancangan seperti ini selalu terbuka bagi transendensi Sein yang menyingkapkan diri secara terus-menerus. Dengan mengangkat ciri provisioris dari setiap projek kehidupan filsafat menjadi sebuah kritik terhadap segala bentuk ideologi. Serentak dengan itu filsafat memberanikan orang untuk hidup di tengah pluralitas. Mungkin hal inilah yang menjadi dasar, kenapa banyak filsuf postmodernis berorientasi kepada Heidegger.

Kedua, sebuah konsep filosofis, yang kebenarannya seharusnya membawa berkah bagi umat manusia, akan mendatangkan malapetaka apabila filsufnya bersifat triumfalistis. Dia memandang konstruksi filosofisnya bukan sebagai sebuah kontribusi bagi penyelenggaraan hidup yang benar, melainkan sebagai pernyataan dirinya sendiri. Ketika dorongan untuk mengatasi berbagai ketidakstabilan pribadi dan sosial menjadi terlampau dominan, bukan mustahil motivasi pengabdian kepada kebenaran akan dikaburkan oleh pencarian akan konsep dan figur politik yang menjamin popularitas diri. Pemikir seperti ini rela menjadikan dirinya pemikir istana, yang mengkonstruksi pembenaran ideologis bagi tampilnya sebuah kekuasaan yang membenarkan penggunaan segala macam cara.

Jalan satu-satunya, yang sudah ditunjukkan Heidegger adalah sebuah refleksi filosofis yang historis. Heidegger yang berorientasi kepada Hitler adalah Heidegger yang sering dicap ahistoris, yang menganalisis Dasein secara formal-ontologis.¹⁸ Ironisnya, konsep teoritis yang ahistoris seperti ini akan mudah diterapkan pada rekayasa politis yang historis, sebab konsep filosofis itu sendiri tidak merefleksikan konteks historis yang menentukannya. Hanya apabila ada refleksi tentang motif-motif historis yang melatarinya, jika ada kepekaan menangkap berbagai kecemasan dan ketakutan yang menentukan suasana, dalamnya sebuah konstruksi filosofis dibangun, seorang filsuf dapat mencegah penyalahgunaan filsafat demi tujuan penumpukan kekuasaan. Kalau demikian, seharusnya seorang filsuf menyadari kondisi sosio-politis yang menentukan cara berpikirnya.

Pengalaman seorang filsuf seperti Heidegger, yang sesudah PD II sekian terpojok dan memojokkan diri, hendaknya menjadi sebuah contoh bagi dunia filsafat kontemporer untuk memikirkan secara serius prinsip netralitasnya. Cinta akan kebenaran bukanlah sebuah konsep abstrak, karena pencarian kebenaran dan klaim atas kebenaran adalah bagian dari keseharian manusia. Manusia mencari kebenaran di tengah kondisi konkretnya, dan gambaran akan kebenaran itu tampil dalam wujud dan isi yang kontekstual. Itu tidak berarti bahwa filsafat perlu meninggalkan abstraksi. Abstraksi akan tetap menjadi instrument berfilsafat, dan perumusan formal dari upaya mencari kebenaran tetap perlu menjadi tujuan dari filsafat. Namun rumusan formal itu harus diikuti sekian banyak anak kalimat dan disertai banyak catatan kaki, agar konsep itu tidak menjadi sesuatu yang tergantung, sebab yang tergantung akan mudah menjadi mangsa yang paling kuat dan berkuasa. Filsafat seperti ini tidak hanya terobsesi pada apa yang disebutnya sebagai inti, tetapi juga peka dan bertanggung jawab terhadap kemungkinan perwujudan konkret dari yang hakiki tersebut. Dalam bahasa Heidegger, filsafat tidak hanya berpikir tentang eksistensial, tetapi memandang pula yang kategorial dan menyingkapkan peluang serta bahaya yang terkandung di dalamnya.

 

Penutup

Kita berangkat dari sebuah pengandaian dasar bahwa terorisme tidak turun dari langit, tetapi dilahirkan dan dibesarkan di dalam kondisi sosio-politis-kultural dan filosofis tertentu. Ya, ada cara pandang tentang dunia dan manusia yang membidani kelahiran seorang teroris dan rezim yang teroristis. Pengandaian ini menemukan bukti historisnya di dalam sosok Martin Heidegger. Dengan ini kita tidak hendak mengatakan bahwa karena itu kita perlu membuang keseluruhan konsep filosofis Heidegger.¹⁹ Justru Heidegger sendiri, dalam refleksi selanjutnya, menawarkan sebuah konsep filosofis yang menyadarkan kita akan pentingnya sebuah sikap kritis yang terus-menerus terhadap bahaya penyalahgunaan gagasan filosofis untuk kepentingan ideologi politik. Cara pandang seperti ini akan membantu kita mewaspadai tendensi-tendensi sosial, politik dan religius yang dapat mengarah kepada pembidanan kelahiran seorang teroris atau pembiarannya.

******************************

 

Sumber Naskah Seri Buku VOX, No/1/2004

 

Catatan:

¹Bdk. Fauzan Al. Anshari, Saya Teroris? Sebuah “Pleidoi” (Jakarta: Republika 2002), hal. i-v.

²Martin Heidegger, Sein und Zeit, cet. ke-9 (Tübingen: Max Niemeyer Verlag, 1960).

³Yang dimaksudkan bukan jilid kedua, sebab jilid kedua dari Sein und Zeit yang dijanjikan tidak pernah diterbitkan.

⁴Silvio Vietta, “Heidegger,” dalam Metzler Philosophen Lexikon, ed. Bernd Lutz (Stuttgart: J.B. Metzler Verlag, 1995), hal. 363.

⁵Pertanyaan ini kemudian menjadi pembahasan dalam buku: Martin Heidegger, Einführung in die Metaphysik, cet. ke-2, (Tübingen: Max Niemeyer Verlag, 1957), hal. 1.

⁶Silvio Vietta, Op. Cit., hal. 364.

⁷Paul Hühnerfeld, In Sachen Heidegger. Versuch über ein deutsches Genie (München: Paul List Verlag, 1961), hal. 103.

⁸Dikutip berdasarkan Paul Hühnerfeld, Op. Cit., hal. 104.

⁹Ibid., hal. 104.

¹⁰Silvio Vietta, Op. Cit., hal. 364.

¹¹Dikutip berdasarkan Paul Hühnerfeld, Op. Cit., hal. 104. SA adalah singkatan dari Sturm-Abteilung, sebuah organisasi bersenjata yang ditempatkan Hitler untuk menakut-nakuti warga.

¹²Martin Heidegger, “Überwindung der Metaphysik,” dalam Martin Heidegger, Vorträge und Aufsätze (Pfullingen: Günther Neske, 1959).

¹³Ibid., hal. 95.

¹⁴Ibid., hal. 91.

¹⁵Ibid., hal. 95.

¹⁶Ibid., hal. 93.

¹⁷Martin Heidegger, Einführung in die Metaphysik, Op. Cit., hal. 25.

¹⁸Silvio Vietta, Op. Cit., hal. 365.

¹⁹Paul Hühnerfeld, In Sachen Heidegger, Op. Cit., hal. 107.

Bagikan artikel:

Baca Juga

adminpaskalis

Tim redaksi dan penulis Beranda Negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *