Lewati ke konten
Media Indonesia • Aktual, Ringkas, Terpercaya
IklanBanner iklan
OPINI

“Honos Alit Artes”

24 pembaca
Bagikan

 

Oleh Syafruddin Azhar

 

Kehormatan akan menumbuhkan kesenian. Itulah makna ungkapan Latin Honos alit artes yang pernah disampaikan orator ulung, Marcus Tullius Cicero (106-43 SM). Ungkapan klasik ini rasanya relevan dengan minimnya perhatian pemerintah (negara) kita sekarang ini terhadap sektor kesenian atau kebudayaan nasional secara menyeluruh. Padahal, budaya mencerminkan kualitas suatu bangsa yang besar.

Kebudayaan menumbuhkan kualitas humanis seperti kearifan atau kebijaksanaan (wisdom), tanggung jawab (responsibility), dan keadilan sosial (social justice). Namun rupa-rupanya pemerintah (dan negara) ini fasih bicara tentang pesatnya pembangunan kebudayaan dan kesenian an sich, daripada tindakan konkret.

Sahabat saya, Kurnia Effendi (cerpenis) dalam kolom  “Jeda”  menulis tentang “Puisi”. Ia mengawali esainya yang renyah dengan sebuah pertanyaan provokatif: Apakah puisi sanggup mengubah pandangan atau pola pikir masyarakat? Secara halus sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa puisi bisa mengubah pandangan seseorang, bahkan juga dapat memengaruhi sikap dan perilaku seseorang. Dan itu tercermin dalam pepatah lama yang dikutipnya, “pena lebih tajam dari ujung pedang”. Lalu ia juga menyatakan, “……Puisi memang bukan alat untuk melawan pemerintah”.

Yang memikat dalam kolom Jeda itu, Kurnia Effendi menyitir film Dead Poets Society (1989), sebuah film yang diadaptasi dari buku karya novelis Nancy H. Kleinbaum.

Saya pernah menonton film Hollywood berlatar Akademi Welton Vermont ini di Kota Malang (1989). Ketika itu saya masih menjadi mahasiswa ekonomi semester empat. Jujur saja, saya tak dapat menangkap makna pesan yang tersirat dalam film tersebut. Pada masa itu, cita-rasa saya dalam memaknai kesusastraan memang minim. Bahkan, baru sedikit mengerti pesan yang tersirat dalam film itu ketika membaca “Catatan Pinggir”-nya Goenawan Mohamad (GM), berjudul Dead Poets Society.

Siapa yang suka mencurigai dan melarang sajak, pergilah menonton Dead Poets Society. Dan jangan tidur. Sebab, di sana Tuan akan menyaksikan suatu kekuatan yang ganjil bernama puisi. Puisi, dalam film ini, menjadi “tokoh utama” yang tak tampak, tapi dengan cepat bisa menyihir semua anak muda. Semula anak-anak itu hidup dalam tertib. Kini mereka dijejali hal-hal yang lebih dahsyat dan asyik: keindahan, kebebasan, kegembiraan, impian, cinta, dan akhirnya kematian.

Dan saya pun, dalam benak, masih merekam penuh semangat beberapa penggalan dialog dalam film ini. “Tak peduli siapa pun bilang padamu, puisi dan kata dapat mengubah dunia. Dengar, kamu dengar ‘kan… Carpe… kan… Carpe, carpe diem, isilah harimu anak-anak, jadikan hidupmu luar biasa. Oh captain, my Captain!” Sungguh, film ini telah mencairkan kembali cita-rasa estetika saya dalam berkesenian, terutama sastra.

Apresiasi GM terhadap film tentang kekuatan puisi yang mendapat Piala Oscar untuk kategori Skenario Asli dan juga mendapat nominasi Pemeran Utama Pria (Robin Williams). Sutradara, dan Film Terbaik sungguh dahsyat. Bahkan, film ini menjadi tontonan wajib di kelas-kelas sekolah menengah di Amerika Utara.

Dalam karyanya De Officiis (Mengenai Tanggung Jawab Publik), menekankan pentingnya kefasihan berbicara (eloquence) itu. “Sebab, hal lain yang lebih baik daripada kefasihan berbicara dalam membangun kekaguman di antara para pendengarnya, harapan bagi orang yang sedang berk esusahan, atau rasa syukur bagi mereka yang bernasib baik…” penegasan seorang ahli pidato mengenai kekuatan (power) orasi retorika.

Saya pikir, pemerintah (dan negara) ini mengadopsi mentah-mentah  apa yang pernah dikatakan oleh Cicero. Tak perlu tindakan nyata, yang penting berkata, titik! Padahal, John F. Kennedy pernah berteori, bahwa seni (di antaranya puisi) dapat membersihkan atau melahirkan kehormatan bagi politik, yang disebutnya kotor. Dan salah satu cara untuk “membersihkan” yang kotor itu ialah dengan memasukkan seni dalam kebijakan politik yang dijalankan sebuah rezim.

Para humanis setuju dengan apa yang diyakini oleh Cicero itu. Keterampilan dan cara beretorika yang baik itu selain menyentuh akal budi juga bisa menggugah imajinasi dan emosi. Kondisi jiwa ini akan membawa audiences ke arah tindakan yang lebih positif dan bermakna.

Secara khusus para humanis ini menaruh minat yang tinggi kepada sintesa filsafat dan retorika dalam beberapa karya tulis yang pernah dihasilkan Cicero. Semangat ini kemudian menjadi gagasan ideal bagi para humanis, yakni kombinasi antara kefasihan berbicara (eloquence) dan kebijaksanaan (wisdom), yang banyak mewarnai corak literatur Renaissance.

Ciri khas kedua Renaissance Humanism berkaitan erat dengan tujuan umum pendidikan humanistik sebagai persiapan atas tugas pelayanan kepada publik. Yang ditanamkan di sini adalah keutamaan kewarganegaraan (civic virtue).

Dalam De Officiis itu, Cicero juga berupaya membangun relasi harmonis antara setiap individu dan seluruh komunitas umat manusia, dan secara khusus antara seorang warga negara dan negaranya (pemerintah). “Tak ada relasi sosial yang lebih erat dan akrab daripada relasi yang menghubungkan kita semua dengan negara kita.” Ungkap Cicero.

Menurut Cicero, segala hal yang kita miliki dalam diri setiap pribadi, termasuk talenta dan keterampilan, harus dibagi-bagikan kepada orang lain demi perbaikan dan kesejahteraan seluruh masyarakat. Dia menekankan kewajiban sosial dari mereka yang terdidik serta pentingnya pengabdian mereka bagi kemanusiaan. Pada akhirnya kebijaksanaan harus digunakan untuk melayani keadilan. ©

————————————————

 

Sumber Tulisan dari Buku Interlude – Jeda, Syafrudin Azhar, Kurnia Effendi, LPKP Publishing

 

Bagikan artikel:

Baca Juga

adminpaskalis

Tim redaksi dan penulis Beranda Negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *