Rera Wulan Tanah Ekan
aku mengendus di corak ukiran tiang korke
dibenam cat warna warni meliuk sekujur tiang
aku bersua, berada yang tak bersumber
bersemayam engkau di ceruk sunyi paling nyenyat
apakah leluhur kami lebih saleh?
roh-roh mereka nomaden di pohon-pohon tinggi,
batu-batu besar tebing-tebing gunung, lembah-lembah bukit,
rumpun-rumpun bambu, dan akar-akar beringin
kau ada di rupa;
matahari, bulan yang menjelajahi dinding cakrawala
tanah yang menghampar jagat semesta
kau sulut terang pada cakrawala, memisahkan siang dari malam
menanda masa; hari-hari, minggu-minggu, bulan-bulan
dan tahun-tahun matahari cerahi siang, bulan pendari malam
kau bertahta di cakrawala;
meluah hujan, angin dan embun
memaruh musim; menanam, memanen, berburu, dan berlayar
engkau memecah laut dan darat.
di laut; binatang-binatang laut berkeriapan,
membiak memenuhi luas lautan
di darat; tumbuh tunas-tunas tanaman muda,
tumbuhan-tumbuhan berbiji
segala jenis pohon, ternak, binatang melata,
berbagai binatang liar, dan burung-burung
berterbangan melintasi reranting pohon
rupamu menyulam rahasia paling agung
melampaui leluhur-leluhur
yang selalu kulabuhkan sesajen darah segar anak ayam,
anak babi, dan anak kambing. darah cucur disiram penatua di
batu-batu ceper dan tanah beranda korke
di ambang matamu serupa elang
kami menggui nafkah di lembah-lembah gunung
bahu-bahu bukit, dan lumbung lautan
————————
Perempuan Lamaholot
engkau membawa pelita
minyak dalam buli tubuhmu
aku menatap pelita di matamu
tengah malam pengantin lelaki datang
engkau bangun membawa mata menyala
segera ke ruang perjamuan kawin
pintu ditutup
keesokan harinya
pintu dibuka
pelita di matamu masih menyala
sebab, selalu tersedia minyak buli tubuhmu
———————
*Rera Wulan Tanah Ekan : Matahari bulan dan jagat raya – wujud tertinggi dalam budaya Lamaholot, Flores Timur
*Lamaholot: salah satu suku di Flores Timur
Sumber Puisi: dari Buku Puisi Batu-Batu Darah, Kosa Kata 2019






