Oleh Odemus Bei Witono, Kolumnis, dan Pemerhati Pendidikan
Hujan rintik-rintik yang dingin menyiram tanah berdebu di pinggiran desa itu, tetapi tidak ada seorang pun yang benar-benar peduli apakah presipitasi itu akan mereda atau makin deras.
Di tengah ketidakpedulian alam yang membisu, lima orang berkumpul di teras rumah kayu yang lapuk: Sam, Ratih, Hasan, Anna, dan seorang lelaki tua bernama Bejo Dimejo.
Mereka berhimpun bukan untuk merayakan sesuatu, bukan pula untuk meratapi kemalangan yang mewujud dalam bentuk fisik.
Kehadiran mereka dipicu oleh sebuah fenomena langka yang sulit ditakar oleh pancaindra biasa. Tidak ada angin yang mendadak berhenti berhembus, tidak pula ada langit yang mendadak berubah warna menjadi merah darah.
Yang ada hanyalah sebuah penderitaan yang merayap diam-diam dari kedalaman diri mereka sendiri—sebuah kondisi eksistensial yang secara samar hanya bisa mereka batasi sebagai sakit di dalam rintihan.
Sam duduk di sudut teras, matanya menatap kosong pada ujung sepatunya yang basah terendam cipratan air. “Ini seperti ada batu besar yang ditaruh di dalam dada, tetapi ketika diraba, tidak ada bentuknya. Batunya tidak berdaging, tidak bertulang, tetapi beratnya menghimpit bernapas pun terasa kaku,” bisiknya lemah.
“Bukan, Sam,” potong Ratih sambil meremas jemarinya sendiri hingga memucat. “Ini lebih buruk dari sekadar himpitan fisik. Ini seperti kita mendadak merindukan sesuatu yang bahkan tidak pernah ada dan tak akan pernah kita miliki. Ada rasa sakit di dalam rintihan ini, tetapi jika kita memanggil dokter terkondang sekalipun, tak ada satu pun bagian tubuh kita yang terluka atau terinfeksi.”
Hasan mencoba mengurut leher bagian belakangnya, berharap menemukan urat yang tegang atau simpul saraf yang bersalah, tetapi nihil. Seluruh anatominya berfungsi normal.
“Hasil pemeriksaan medis menyatakan organ tubuh kita sempurna. Hasil laboratorium bersih. Lalu kenapa rintihan ini begitu nyata menggema di rongga dada? Kita hanya tidak pernah berani menyimpulkan sakit apa yang sesungguhnya sedang kita derita ini,” ujar Hasan dengan nada menggantung.
Ia sengaja menghentikan kalimatnya, sebab dia paham betul: menyimpulkan sesuatu yang abstrak sering kali merusak hakikat asli dari penderitaan itu sendiri.
Anna menoleh ke arah Bejo Dimejo yang sejak tadi duduk bersandar pada tiang kayu, diam melamun menatap kabut tipis di kejauhan. “Mbah Bejo, Sampeyan kan orang yang paling banyak makan asam garam di sini. Masa tidak tahu rasa sakit apa yang sedang menyiksa kita bersamaan begini?”
Bejo Dimejo menoleh pelan. Matanya keruh, mencerminkan keletihan bertahun-tahun merespons dunia yang bisu. Ia menghembuskan napas panjang.
“Rintihan ini sudah ada jauh sebelum kalian lahir ke dunia ini. Hanya saja, kalian terlalu sibuk dengan urusan sehari-hari hingga lupa mendengarkannya. Baru hari ini, ketika seluruh kesibukan itu mendadak menguap, kalian cukup tenang untuk merasakannya. Sakit itu bukan datang dari luar; sakit itu adalah cara keberadaan kalian mengetuk pintu kesadaran.”
Ketidakpastian merayap lebih menyiksa daripada rasa sakit itu sendiri. Merekapun terjebak dalam ruang remang-remang antara keberadaan yang hampa dan pencarian makna yang sia-sia. Fenomena langka ini telah menelanjangi kepalsuan rutinitas mereka.
Di tengah kebuntuan argumen yang tak berujung, bunyi langkah kaki berayun perlahan mendekati halaman teras. Ki Denta, seorang guru kebijaksanaan yang memilih mengasingkan diri di pinggir hutan, muncul menembus tirai hujan dengan membawa sebuah tongkat kayu yang polos tanpa ukiran.
Kelima orang di teras mendongak, menaruh bayang-bayang harapan bahwa sang guru akan mengeluarkan resep obat, atau minimal merumuskan nama ilmiah bagi penderitaan misterius yang melanda mereka.
“Ki Denta,” ujar Sam mendesak, berdiri dari duduknya. “Tolong beri tahu kami, sebelum kami menjadi gila karena teka-teki ini. Apa makna dari sakit di dalam rintihan yang kami rasakan secara bersamaan ini? Kami terlalu takut untuk mengambil kesimpulan sendiri.”
Ki Denta tidak segera menjawab. Ia bahkan tidak beranjak menaiki anak tangga teras. Ia tetap berdiri di bawah naungan hujan yang terus menetes tanpa pola matematis yang pasti.
“Kenapa kalian begitu bernafsu untuk merumuskan dan memberi nama pada sesuatu yang memang tidak memiliki wadah?” suara Ki Denta terdengar datar, steril dari simpati yang berlebihan.
“Kalian merasa sakit justru karena kalian terus-menerus menuntut alasan logis dari tubuh, pikiran, dan keberadaan kalian. Kalian memaksa mencari makna yang sublim pada alam semesta yang sejak awal diciptakan tanpa janji untuk memberi kalian jawaban apa pun.”
Ratih menggelengkan kepala, mencoba menyanggah. “Tapi Ki, rasa sakit ini nyata. Rintihan ini merobek kedamaian kami dari dalam. Bagaimana mungkin kami mengabaikannya begitu saja?”
“Kalian salah menilai,” jawab Ki Denta dingin namun sarat ketenangan eksistensial. “Hakikat dari sakit di dalam rintihan itu bukan berasal dari patologi atau penyakit biologis. Itu adalah kesadaran kalian sendiri yang akhirnya membentur dinding tebal absurditas. Selama ini kalian hidup, bekerja, makan, mencintai, dan membuat rencana masa depan seolah-olah semua itu memiliki tujuan akhir yang megah. Lalu tiba-tiba, dalam satu fenomena langka hari ini, kalian sadar bahwa semua aktivitas itu berjalan di atas ketidakpastian yang hampa. Penderitaan yang tak berani kalian simpulkan itu sesungguhnya adalah benturan keras antara kerinduan mendalam kalian akan arti hidup dan keheningan dunia yang sepenuhnya tidak peduli.”
Anna menunduk, air matanya menetes menyatu dengan kelembapan udara. “Jadi, tidak ada obatnya? Apakah ini berarti kita dihukum untuk terus hidup bersama rasa sakit di dalam rintihan ini selamanya?”
Ki Denta menatap wajah kelima orang itu satu per satu dengan pandangan yang dalam. “Obatnya bukanlah dengan meracik ramuan agar rasa sakit itu sirna, melainkan dengan berhenti menuntut agar dunia memberi kalian penjelasan. Terima rintihan itu bukan sebagai kutukan, melainkan sebagai satu-satunya bukti sah bahwa kalian benar-benar ada, hidup, dan sadar. Menolak dan memberontak pada absurditas secara buta hanya akan memperparah penderitaan, tetapi memeluk ketidakjelasan eksistensi dengan penuh kesadaran adalah satu-satunya bentuk kebebasan sejati yang kalian miliki sebagai manusia.”
Tanpa menunggu balasan atau perdebatan lebih lanjut, Ki Denta memutar badannya. Ia kembali berjalan perlahan menembus hujan yang kian lebat, meninggalkan kelimanya dalam lingkaran keheningan yang tebal.
Di teras kayu yang makin dingin itu, sakit di dalam rintihan yang merayap di dada Sam, Ratih, Hasan, Anna, dan Bejo Dimejo tidak mendadak hilang atau sembuh secara ajaib.
Namun, sore itu, untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, mereka memutuskan untuk berhenti merumuskan alasannya. Mereka memilih untuk duduk diam, memeluk absurditas kehidupan, dan membiarkan hujan terus turun sebagaimana mestinya.








