Oleh Agus Widjajanto, Pemerhati Sosial Budaya
Di tengah kehidupan dunia modern saat ini, makna kesetiaan sering kali mengalami pergeseran. Kesetiaan kerap diukur berdasarkan status sosial, jabatan, kekayaan, kepentingan politik, hubungan atasan dan bawahan, bahkan tidak jarang masih dipengaruhi oleh ras, golongan, maupun keyakinan. Hubungan antarmanusia pun sering dibangun di atas kalkulasi untung dan rugi. Selama seseorang memiliki kekuasaan, jabatan, atau manfaat tertentu, ia akan dikelilingi banyak orang. Namun ketika semua itu hilang, kesetiaan yang tampak kokoh sering kali ikut menghilang.
Kesetiaan seperti itu sesungguhnya hanyalah kesetiaan semu. Ia lahir bukan dari ketulusan hati, melainkan dari kepentingan. Ada pamrih, ada harapan mendapatkan keuntungan, ada pertimbangan untung-rugi. Karena itu, kesetiaan semacam ini mudah berubah mengikuti keadaan.
Di tengah realitas tersebut, justru kita dapat belajar tentang arti kesetiaan dari seekor hewan yang sering dipandang sederhana, yaitu anjing.
Dalam kisah Ashabul Kahfi yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an, disebutkan bahwa sekelompok pemuda beriman berlindung di dalam sebuah gua bersama seekor anjing yang setia menemani mereka. Mereka tertidur selama ratusan tahun atas kehendak Tuhan hingga terbangun ketika zaman telah berubah. Kehadiran anjing dalam kisah tersebut menjadi simbol bahwa kesetiaan tidak selalu diajarkan melalui kata-kata, melainkan diwujudkan melalui tindakan yang tulus.
Pelajaran yang sama hadir dalam kisah nyata dari Kota Cianorte, Brasil
Di jalanan Brasil hiduplah seorang tunawisma bernama Luiz. Selama lebih dari dua puluh tahun ia hidup berpindah-pindah di bawah kolong jembatan, halte, hingga taman kota. Harta yang dimilikinya hampir tidak ada. Namun ia mempunyai keluarga yang sangat ia cintai, yakni enam ekor anjing peliharaannya yang oleh warga sekitar dikenal sebagai kelompok atau “Gank Benji”.
Sering kali Luiz rela menahan lapar agar keenam anjingnya tetap bisa makan. Baginya, mereka bukan sekadar hewan peliharaan, melainkan keluarga. Kasih sayang yang diberikan Luiz tidak pernah diukur dengan materi. Ia memberikan perhatian, perlindungan, dan kebersamaan setiap hari.
Sebagai balasannya, keenam anjing tersebut memperlihatkan kesetiaan yang luar biasa. Mereka tidak pernah memandang pakaian yang dikenakan Luiz, tidak peduli berapa banyak uang yang dimilikinya, tidak mempersoalkan status sosialnya sebagai tunawisma, bahkan tidak memandang apakah ia memiliki rumah mewah atau tidak.
Yang mereka rasakan hanyalah getaran kasih sayang. Ada ikatan batin yang begitu kuat antara manusia dan hewan tersebut. Getaran kasih itu kemudian dibalas dengan kesetiaan tanpa syarat.
Suatu hari Luiz mendadak terserang stroke hingga terjatuh dan tidak mampu berjalan. Keenam anjingnya langsung menggonggong kepada setiap orang yang melintas, berusaha menarik perhatian agar seseorang datang memberikan pertolongan.
Naluri mereka berhasil menyelamatkan sang tuan. Seorang pejalan kaki akhirnya menghubungi polisi, kemudian ambulans datang membawa Luiz ke rumah sakit. Namun kisah mengharukan itu belum berhenti.
Keenam anjing tersebut berlari berkilo-kilometer mengikuti ambulans hingga tiba di rumah sakit. Ketika Luiz masuk ke ruang Unit Gawat Darurat (UGD), mereka tetap menunggu di depan pintu. Hari demi hari berlalu. Luiz dipindahkan ke ruang perawatan, tetapi keenam anjing itu tidak pernah meninggalkan halaman rumah sakit.
Selama berminggu-minggu mereka terus menunggu.Para pengunjung rumah sakit yang terharu serta relawan perlindungan hewan dari Amigos dos Animais Brasil secara bergantian memberikan makanan kepada mereka. Namun tidak satu pun dari anjing tersebut meninggalkan tempat itu. Mereka tetap menunggu hingga sang tuan kembali.
Kisah tersebut menjadi bukti bahwa cinta tanpa syarat bukan sekadar konsep, melainkan kenyataan yang dapat kita saksikan.Penelitian ilmiah juga menunjukkan bahwa hubungan antara manusia dan anjing memiliki dasar biologis yang kuat. Para peneliti dari Universitas Azabu, Jepang, menemukan bahwa ketika manusia dan anjing saling menatap dengan penuh kasih, kadar hormon oksitosin—yang sering disebut sebagai hormon kasih sayang atau bonding hormone—meningkat pada keduanya. Fenomena ini memperkuat ikatan emosional sebagaimana hubungan antara orang tua dan anak. Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Science pada 2015 dan menjadi salah satu bukti ilmiah bahwa hubungan manusia dengan anjing dibangun melalui ikatan emosional yang sangat kuat.
Sejumlah penelitian lain dalam bidang etologi (ilmu perilaku hewan) juga menjelaskan bahwa anjing merupakan salah satu spesies yang paling mampu membaca ekspresi wajah, intonasi suara, dan emosi manusia. Kemampuan tersebut berkembang selama ribuan tahun proses domestikasi sehingga menjadikan anjing sangat responsif terhadap kondisi psikologis pemiliknya. Tidak mengherankan apabila banyak anjing tetap berada di sisi pemiliknya ketika sakit, sedih, atau mengalami musibah.
Organisasi seperti American Kennel Club (AKC) maupun berbagai lembaga perilaku hewan juga mencatat bahwa loyalitas anjing lahir dari kombinasi naluri sosial sebagai hewan berkelompok (pack animal), ikatan emosional, rasa aman, dan pengalaman kasih sayang yang mereka terima dari manusia. Semakin besar perhatian yang diberikan, semakin kuat pula keterikatan mereka kepada pemiliknya.
Luiz mungkin tidak mempunyai rumah mewah sebagaimana orang kebanyakan. Ia juga tidak mempunyai jabatan, kekayaan, ataupun kedudukan sosial yang tinggi. Akan tetapi, ia memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga, yakni kasih sayang yang tulus. Dari kasih sayang itulah lahir kesetiaan yang tidak dapat dibeli dengan uang.
Kisah ini mengajarkan kepada kita arti sebuah kesetiaan. Anjing tidak pernah belajar agama, tidak pernah mengikuti pendidikan filsafat, tidak memahami teori sosiologi ataupun etika. Namun melalui perilakunya, mereka mampu mengajarkan nilai yang justru sering dilupakan manusia.
Ironisnya, manusia yang dibekali akal, logika, pendidikan, dan ajaran moral sering kali masih menilai pertemanan berdasarkan strata sosial, kekayaan, jabatan, pendidikan, ras, ataupun agama. Hubungan sosial tidak jarang dibangun berdasarkan manfaat yang bisa diperoleh.Sebaliknya, anjing-anjing milik Luiz hanya mengenal satu ukuran, yaitu kasih sayang. Mereka tidak pernah bertanya apakah tuannya memiliki rumah, berapa besar penghasilannya, atau apa tingkat pendidikannya. Yang mereka kenal hanyalah ikatan batin yang dipenuhi getaran kasih sayang, lalu mereka membalasnya dengan kesetiaan total tanpa syarat.
Mungkin di sinilah letak pelajaran terbesar bagi manusia. Kesetiaan sejati tidak lahir dari kekuasaan, tidak dibangun oleh harta, dan tidak bergantung pada kedudukan. Kesetiaan lahir dari cinta, kepedulian, pengorbanan, dan kepercayaan yang dipelihara setiap hari.
Karena itu, kita patut bercermin. Jangan sampai manusia yang dianugerahi akal justru kalah dalam hal kesetiaan dibanding seekor anjing. Sebab ukuran kemuliaan bukanlah seberapa tinggi jabatan atau seberapa besar kekayaan yang dimiliki, melainkan seberapa tulus kita menjaga orang-orang yang kita cintai ketika mereka berada dalam keadaan sulit.
Beberapa Kisah Nyata Kesetiaan Anjing kepada Manusia:
Hachiko – Jepang (1923–1935)
Anjing milik Profesor Hidesaburo (Eisaburo) Ueno ini setiap hari menunggu tuannya di Stasiun Shibuya. Setelah sang profesor meninggal dunia akibat stroke pada 1925, Hachiko tetap datang ke stasiun pada waktu yang sama selama hampir sembilan tahun hingga ia meninggal. Kini patung Hachiko berdiri di Stasiun Shibuya sebagai simbol kesetiaan yang dikenal di seluruh dunia.
Capitan – Argentina
Setelah pemiliknya, Miguel Guzmán, meninggal dunia pada 2005, Capitan menghilang dari rumah. Seminggu kemudian keluarga menemukannya sedang tidur di atas makam sang tuan. Selama bertahun-tahun Capitan tetap tinggal di area pemakaman dan menolak meninggalkan makam tersebut.
Balto – Alaska (1925)
Balto memimpin tim kereta luncur yang membawa serum antitoksin difteri melintasi badai salju menuju Kota Nome, Alaska. Perjalanan berbahaya itu membantu menyelamatkan ribuan jiwa. Sebagai penghormatan, patung Balto didirikan di Central Park, New York.
Bobbie – Amerika Serikat (1923–1927)
Bobbie terpisah dari keluarganya ketika berlibur. Enam bulan kemudian ia berhasil kembali ke rumah di Oregon setelah menempuh perjalanan sekitar 4.000 kilometer melintasi enam negara bagian Amerika Serikat. Kisahnya menjadi salah satu cerita paling terkenal tentang naluri mencari pemilik.
Taro dan Jiro – Antarktika (1958)
Dua anjing husky Jepang ini berhasil bertahan hidup hampir satu tahun di Antarktika setelah tim ekspedisi terpaksa meninggalkan mereka akibat cuaca ekstrem. Ketika tim kembali, Taro dan Jiro masih hidup. Kisah mereka dikenang sebagai simbol daya juang, kerja sama, dan loyalitas.
Kisah-kisah tersebut berasal dari berbagai negara, budaya, dan zaman yang berbeda. Namun semuanya menyampaikan pesan yang sama: kasih sayang yang tulus akan melahirkan kesetiaan yang tidak mengenal pamrih. Nilai inilah yang seharusnya terus dipelihara dalam kehidupan manusia, baik di lingkungan keluarga, persahabatan, masyarakat, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
————————————————-

