Oleh Rikardus Perasong Hayon
Pada Sabtu, 15 Agustus 2026, Flores dan sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur diguncang gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo. BMKG mencatat episenternya berada sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer (Kompas 15/8/2026). Gempa tersebut juga sempat memunculkan peringatan dini tsunami bagi sejumlah wilayah. Dalam hitungan detik, tanah yang selama ini kita anggap kokoh tiba-tiba bergerak. Rumah berguncang, manusia panik, dan kehidupan yang beberapa saat sebelumnya berjalan normal mendadak berubah. Peristiwa itu mengingatkan kita pada sesuatu yang sering dilupakan: kehidupan tidak selalu berjalan mengikuti rencana manusia.
Gempa adalah fenomena alam, tetapi siapa yang paling menderita akibat gempa tidak sepenuhnya ditentukan oleh alam. Gempa yang sama dapat dialami manusia dalam kondisi yang berbeda. Ada yang berada di rumah kokoh, ada yang berada di rumah sederhana. Ada yang segera memperoleh informasi dan pertolongan, ada yang harus menunggu karena jarak dan keterbatasan akses. Alam menciptakan guncangan, tetapi kondisi kehidupan manusia menentukan seberapa jauh guncangan itu berubah menjadi penderitaan. Namun, di balik perbedaan tersebut, ada pengalaman yang sama: manusia berhadapan dengan sebuah peristiwa yang tidak pernah direncanakannya.
Manusia adalah makhluk yang senang membuat rencana. Kita merencanakan pekerjaan, keluarga, rumah, perjalanan dan masa depan. Kita menjalani kehidupan seolah-olah hari esok adalah sesuatu yang dapat kita susun dengan pasti. Tetapi sebuah gempa mengingatkan bahwa kehidupan selalu menyimpan sesuatu yang berada di luar rencana. Tidak ada manusia yang dapat menentukan kapan bumi harus bergerak. Tidak ada kalender yang dapat memastikan kapan kehidupan akan berhadapan dengan sesuatu yang sama sekali tidak terduga. Karena itu, gempa bukan hanya fenomena geologis; ia juga dapat menjadi sebuah peristiwa eksistensial.
Pemikiran Epictetus dalam tradisi Stoik membantu kita memahami batas tersebut. Dalam Enchiridion, ia membedakan hal-hal yang berada dalam kendali manusia dan hal-hal yang tidak berada dalam kendalinya. Gempa jelas bukan sesuatu yang dapat kita perintah untuk datang atau berhenti. Tetapi bagaimana manusia merespons keadaan adalah persoalan lain. Stoikisme tidak mengajarkan kepasrahan terhadap bencana, melainkan kesadaran tentang batas kendali. Kita tidak dapat mengendalikan bumi yang bergerak, tetapi kita dapat menentukan bagaimana kita menghadapi kenyataan yang datang kepada kita.
Heidegger membawa persoalan ini lebih jauh. Dalam Being and Time, ia menggunakan gagasan Geworfenheit, atau keadaan manusia yang “terlempar” ke dalam dunia. Kita tidak memilih kapan dilahirkan, di mana dilahirkan, keluarga apa yang kita miliki, zaman apa yang kita jalani, ataupun seluruh keadaan yang membentuk kehidupan kita. Kita menemukan diri kita sudah berada di dalam dunia. Gempa seakan membuka kesadaran itu secara tiba-tiba. Selama kehidupan berlangsung normal, kita mudah menganggap dunia sebagai sesuatu yang stabil dan dapat kita kuasai. Ketika bumi berguncang, keyakinan itu seketika retak. Kita disadarkan bahwa keberadaan manusia sejak awal memang berlangsung dalam ketidakpastian.
Hannah Arendt kemudian memberi kita alasan untuk tidak membiarkan peristiwa itu berlalu begitu saja. Dalam pemikirannya tentang aktivitas berpikir, terutama dalam Between Past and Future dan The Life of the Mind, pengalaman manusia dapat menjadi titik berangkat untuk memahami dunia. Sebuah peristiwa bukan hanya sesuatu yang terjadi kepada kita, tetapi sesuatu yang dapat memaksa kita untuk berhenti dan berpikir. Karena itu, gempa Flores tidak harus berhenti sebagai angka 7,7 magnitudo, episentrum, kedalaman, kerusakan atau jumlah korban. Di balik angka-angka itu terdapat manusia yang ketakutan, kehilangan rasa aman, mencari keluarganya, menolong sesamanya, dan kembali mempertanyakan kehidupan.
Barangkali inilah yang membuat sebuah peristiwa alam menjadi begitu penting bagi manusia. Gempa hanya berlangsung dalam hitungan detik, tetapi kesadaran yang ditinggalkannya dapat berlangsung jauh lebih lama. Ia mengingatkan kita bahwa manusia boleh membuat rencana, tetapi tidak pernah memiliki seluruh kehidupan. Kita boleh membangun rumah yang kokoh, tetapi tidak dapat membuat dunia sepenuhnya aman. Kita boleh berusaha mengendalikan masa depan, tetapi selalu ada sesuatu yang berada di luar jangkauan kita.
Pada akhirnya, gempa tidak hanya mengguncang tanah yang kita pijak. Ia juga mengguncang keyakinan kita tentang kehidupan. Stoikisme mengajarkan kita mengenali batas kendali; Heidegger mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk yang sejak awal “terlempar” ke dalam dunia yang tidak sepenuhnya dipilihnya; sementara Arendt mengajak manusia untuk tidak sekadar mengalami peristiwa, tetapi berhenti dan memikirkannya.
Maka mungkin pesan terdalam dari bumi yang berguncang adalah ini: kita tidak sepenuhnya menguasai kehidupan, tetapi kita selalu memiliki kesempatan untuk memahami kehidupan dengan lebih dalam.
Dan mungkin, setelah gempa berlalu, yang tersisa bukan hanya tanah yang kembali diam, tetapi juga manusia yang menjadi sedikit lebih sadar bahwa hidup adalah sesuatu yang berharga justru karena ia tidak pernah sepenuhnya dapat kita pastikan.

——————
*Penulis adalah Pengajar, Jurnalis dan Pemerhati Filsafat





