Lewati ke konten
Media Indonesia • Aktual, Ringkas, Terpercaya
IklanBanner iklan
OPINI

Mitsuyuki Tanaka “Sutoro”: Ketika Seorang Tentara Jepang Memilih Menjadi Saudara Indonesia

17 pembaca
Bagikan

Oleh  Agus Widjajanto, Pemerhati Sosial Budaya dan Sejarah Bangsa

 

Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya ditulis oleh darah dan pengorbanan anak bangsa. Di balik kisah heroik para pejuang yang telah dikenal luas, terdapat pula sosok-sosok yang datang dari tempat yang tidak pernah kita duga. Salah satunya adalah seorang perwira Tentara Kekaisaran Jepang bernama Mitsuyuki Tanaka, yang kemudian dikenal dengan nama Sutoro.

Kisahnya bukan sekadar cerita tentang seorang tentara yang membelot. Ini adalah kisah tentang kemenangan nurani atas kepentingan negara, tentang keberanian memilih jalan yang diyakini benar, dan tentang nasionalisme yang lahir bukan karena tempat kelahiran, melainkan karena keberpihakan kepada keadilan.

Ironisnya, nama Sutoro justru nyaris tenggelam dari ingatan kolektif bangsa. Padahal, perannya menjadi salah satu bagian penting dalam fase awal mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

 

Ketika Senjata Penjajah Berubah Menjadi Senjata Kemerdekaan

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945, seluruh persenjataan Tentara Dai Nippon diperintahkan untuk diserahkan kepada pihak Sekutu. Di berbagai kota, termasuk Magelang, gudang-gudang senjata masih dipenuhi ribuan pucuk senapan, mortir, granat, serta amunisi.

Sementara itu, bangsa Indonesia baru tiga hari memproklamasikan kemerdekaannya. Para pemuda dan Badan Keamanan Rakyat (BKR) sebagian besar hanya memiliki bambu runcing dan senjata rampasan dalam jumlah terbatas. Ancaman kembalinya Belanda bersama NICA di bawah perlindungan Inggris semakin nyata. Dalam situasi itulah Letnan Dua Mitsuyuki Tanaka mengambil keputusan yang mengubah arah sejarah.

Alih-alih menjalankan perintah menyerahkan persenjataan kepada Sekutu, ia justru membuka gudang-gudang senjata di Magelang dan menyerahkannya kepada para pejuang Indonesia. Senapan, amunisi, hingga granat dipindahkan secara diam-diam kepada BKR dan laskar-laskar rakyat.

Tindakan itu merupakan bentuk pembangkangan terhadap perintah militernya sendiri. Jika tertangkap, ia dapat dianggap sebagai pengkhianat oleh negaranya dan menghadapi hukuman berat. Namun, Tanaka memilih mengikuti suara hati.

Keputusan tersebut diyakini turut memperkuat persenjataan para pejuang yang kemudian bertempur dalam Palagan Ambarawa, salah satu pertempuran penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

 

Dari Mitsuyuki Tanaka Menjadi Sutoro

Sesudah aksinya diketahui, Tanaka tidak memiliki banyak pilihan. Pulang ke Jepang berarti menghadapi risiko dianggap sebagai pembelot. Bertahan dengan identitas aslinya juga membuatnya menjadi buronan Sekutu. Ia memilih jalan ketiga.

Ia mengganti namanya menjadi Sutoro, melebur sebagai rakyat Indonesia, bergabung bersama para pejuang, dan ikut bergerilya di wilayah Magelang, Temanggung, serta Wonosobo.

Berbekal pengalaman tempur di berbagai front Perang Asia Pasifik, ia mengajarkan teknik perang modern, penggunaan senjata, penyergapan, hingga disiplin militer kepada para pejuang Indonesia yang sebagian besar belum memiliki pengalaman perang modern.

Ia hidup sederhana bersama rakyat, tidur di lumbung, makan seadanya, bahkan berkali-kali menghadapi baku tembak dengan pasukan Belanda.

Setelah perang usai, ia memilih tetap tinggal di Indonesia. Ia menikahi perempuan pribumi, membangun keluarga, dan menjalani kehidupan sebagai petani di Magelang.

Ia tidak meminta jabatan. Tidak meminta kekayaan. Tidak pula menuntut penghormatan. Yang ia pilih hanyalah menjadi bagian dari bangsa yang telah ia bela.

 

Penghormatan Negara

Pengabdian Sutoro akhirnya mendapat pengakuan dari negara. Pada awal dekade 1950-an, Presiden Soekarno menganugerahkan Bintang Gerilya kepadanya sebagai penghargaan atas jasa-jasanya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia juga memperoleh pangkat kehormatan Letnan Kolonel Tituler.

Penghargaan itu menjadi simbol bahwa Indonesia tidak memandang jasa berdasarkan asal-usul seseorang, melainkan berdasarkan pengorbanannya bagi bangsa. Semangat itulah yang menjadi salah satu kekuatan moral Indonesia pada masa awal kemerdekaan.

 

Bukan Satu-satunya

Sutoro bukan satu-satunya warga negara asing yang memilih berpihak kepada Indonesia. Dalam Pertempuran Surabaya 10 November 1945, berbagai catatan sejarah menyebut adanya sejumlah tentara Gurkha yang menolak memerangi rakyat Indonesia dan kemudian membelot. Di berbagai daerah lain, terdapat pula ratusan bekas tentara Jepang yang memilih menetap di Indonesia sebagai guru, dokter, teknisi, maupun pejuang.

Mereka memiliki kesamaan yang mendasar. Mereka menempatkan kemanusiaan di atas kepentingan politik. Mereka percaya bahwa perjuangan bangsa Indonesia adalah perjuangan yang adil.

 

Nasionalisme adalah Keberpihakan

Kisah Sutoro menjadi semakin relevan ketika dunia memasuki era yang sering disebut sebagai “perang pemikiran”. Ancaman terhadap bangsa tidak lagi selalu datang melalui senjata, tetapi melalui ideologi, disinformasi, korupsi, pragmatisme politik, konsumerisme, serta lunturnya rasa kebangsaan.

Di tengah kondisi tersebut, kisah seorang mantan tentara Jepang justru mengajarkan arti nasionalisme yang sangat sederhana. Nasionalisme bukan sekadar status kewarganegaraan. Nasionalisme adalah keberpihakan kepada kepentingan bangsa.

Seseorang dapat lahir sebagai warga negara Indonesia, tetapi mengkhianati bangsanya melalui korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, atau menjadi alat kepentingan asing.

Sebaliknya, seseorang yang lahir di negeri lain dapat menunjukkan kecintaan yang lebih besar kepada Indonesia melalui tindakan nyata, sebagaimana dilakukan Sutoro.

 

Integritas Seorang Pejuang

Hal lain yang patut direnungkan adalah integritas. Sutoro memiliki kesempatan menyelamatkan diri. Ia dapat kembali ke Jepang setelah perang usai. Namun, ia memilih tetap tinggal bersama rakyat Indonesia, hidup sederhana sebagai petani, tanpa memanfaatkan jasa-jasanya untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Dalam budaya Jawa terdapat ungkapan urip iku urup—hidup hendaknya memberi manfaat dan menjadi penerang bagi orang lain. Nilai itu tercermin dalam perjalanan hidup Sutoro. Ia tidak meninggalkan warisan berupa kekuasaan. Ia meninggalkan teladan.

 

Rekonsiliasi yang Sesungguhnya

Kisah Sutoro juga menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu hitam dan putih. Jepang memang pernah menjadi bangsa penjajah yang meninggalkan luka mendalam di Indonesia. Namun, dari bangsa yang sama lahir pula individu yang memilih berdiri bersama rakyat Indonesia.

Ini mengajarkan bahwa rekonsiliasi sejati bukan berarti melupakan sejarah, melainkan mampu membedakan antara kesalahan sebuah rezim dengan pilihan moral seorang manusia. Kemanusiaan selalu memiliki ruang untuk mengalahkan kebencian.

 

Mengapa Nama Sutoro Jarang Dikenal?

Ada beberapa alasan mengapa nama Sutoro tidak sepopuler tokoh-tokoh perjuangan lainnya. Pertama, sebagian besar perjuangannya berlangsung dalam operasi gerilya yang minim dokumentasi. Kedua, narasi sejarah setelah kemerdekaan lebih banyak menempatkan Jepang sebagai pihak penjajah sehingga kisah para simpatisan Jepang terhadap perjuangan Indonesia kurang mendapat perhatian. Ketiga, Sutoro sendiri dikenal sebagai pribadi yang rendah hati dan tidak pernah menginginkan popularitas. Baginya, membantu Indonesia adalah sebuah kewajiban moral, bukan jalan untuk mencari penghargaan.

Di tengah berbagai persoalan bangsa saat ini—korupsi, polarisasi politik, konflik identitas, hingga menguatnya individualisme—kisah Sutoro menghadirkan pelajaran yang sangat berharga.

Ia mengingatkan bahwa cinta kepada Indonesia bukan diukur dari asal-usul, jabatan, ataupun simbol-simbol kebangsaan, melainkan dari tindakan nyata untuk menjaga kepentingan bangsa.

Kemerdekaan tidak pernah bertanya dari mana seseorang berasal. Kemerdekaan hanya bertanya, kepada siapa keberpihakan itu diberikan. Karena itu, sudah sepatutnya bangsa ini terus menggali dan menghargai setiap lembar sejarah perjuangan, termasuk kisah Mitsuyuki Tanaka atau Sutoro, seorang mantan perwira Tentara Dai Nippon yang memilih menjadi saudara bagi Indonesia.

Sebagaimana pesan Bung Karno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.” Dan di antara mereka, terdapat seorang pejuang yang lahir di Jepang, tetapi memilih mengabdikan hidupnya untuk Merah Putih: Sutoro.

——————-

 

Bagikan artikel:

Baca Juga

adminpaskalis

Tim redaksi dan penulis Beranda Negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *